Powered By Blogger

Minggu, 09 Januari 2011

WAJAH ELITE BANGSA

Reformasi yang menghidupkan kembali demokrasi di Indonesia, telah melahirkan elite bangsa yang kritis Namun sayangnya baik mereka sudah lengser dari kekuasaan maupun yang belum mendapat kesempatan, ditambah politisi berkedok ulama, pengamat politik, pakar komunikasi, media massa yang dikuasai oleh politisi tertentu, kebanyakan mereka melakukan kritik karena fusuq dan jidal.

Fusuq adalah perkataan dan perbuatan yang dimaksudkan untuk menyakiti, menyerang, merusak, bahkan merendahkan orang lain. Dalam jidal, semua pengritik dan pengecam menganggap pendapatnya paling benar.

Sesungguhnya kebenaran itu hanya pada Allah SWT, dan orang-orang yang iman dan takwanya benar, bukan pada mereka yang dikuasai kekuatan ghadab dan wahmiyah. Kekuatan ghadhab adalah dorongan untuk mengalahkan orang lain, di dalamnya termasuk kesombongan, kedengkian, rasa benci, rasa iri dan dendam. Kekuatan wahmiyah datangnya dari syeitan, yakni kekuatan yang membenarkan ucapan buruk.

Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang munafik. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya lidah seorang Mukmin itu di belakang hatinya, apabila hendak mengatakan sesuatu, ia mempertimbangkan dengan hatinya. Lalu ia ungkapkan dengan lidahnya. Sementara lidah orang munafik di depan hatinya, apabila ia ingin sesuatu, maka ia ungkapkan dengan lidahnya, dan tidak mempertimbangkan dengan hatinya.” [HR Kirithi dari Hasan Al Bashri].

Dari hadits di atas kita dengan mudah, bisa tahu siapa elite bangsa yang Mukmin yaitu elite bangsa berhati-hati dalam berbicara, dan siapa yang munafik, yaitu elite bangsa yang gemar fusuq dan jidal.

Ucapan seseorang mencerminkan hati dan lidahnya. Keduanya memiliki makna fisik dan metafisik. Secara fisik hati adalah jantung yang menjadi pusat dalam jasmani manusia. Secara metafisik hati adalah wadah dari segala pusat aktivitas diri dan menampung segala bentuk sikap, perbuatan dan pikiran manusia. Sementara itu lidah secara fisik adalah organ yang membuat manusia bisa berbicara, tetapi secara metafisik lidah adalah ucapan yang keluar dari hati manusia.

Para elite bangsa hendaknya bersikap sebagai negarawan yang bertanggungjawab, bukan sekedar mengritik dan mengecam apalagi memfitnah, seolah-olah mereka itu paling peduli dan paling mampu mengemban amanah rakyat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar