Powered By Blogger

Jumat, 07 Januari 2011

Kunci-Kunci Kebaikan

Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat dan karunia-Nya segala amalan shalih bisa terwujud dengan sempurna. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, para sahabat dan semua orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Dalam beribadah kepada Allah, seorang muslim tentu sangat mengharapkan kebaikan dari Allah. Ketika dia bersyukur, bersabar ataupun ketika bertaubat dari kesalahan, pasti kebaikanlah yang dituju. Inilah sesungguhnya niat ikhlas yang ada pada diri seorang muslim ketika melakukan suatu amalan. Dia hanya mengharapkan kebaikan dari Allah SWT, tidak dari selain-Nya.

Akan tetapi, niat ikhlas semata tidaklah cukup untuk memenuhi syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Selain ikhlas, tentu harus ada kesesuaian amal yang dilakukan dengan tuntunan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Inilah dua hal yang dikenal sebagai dua syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah SWT.

Dua syarat ini bukanlah syarat yang dibuat-buat oleh manusia. Akan tetapi lebih dari itu, dua syarat ini sesungguhnya didapatkan dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya SAW dalam al-Qur'an maupun as-Sunnah.

Di antara petunjuk wahyu akan syarat pertama, yaitu keikhlasan dalam beramal, adalah firman Allah SWT, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (al-Bayyinah: 5)

Dan firman-Nya "Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki- Nya di antara hamba-hamba- Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." [al-An'aam: 88]

Dan petunjuk akan syarat kedua, yaitu kesesuaian amal dengan tuntunan Rasulullah SAW, adalah sabda beliau, "Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada tuntutannya dari kami, maka tertolak." [Muttafaq `alaih]

Pantas saja, jika Abdulullah bin Mas'ud pernah mengatakan, "Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun dia tidak mendapatkannya."

Dari sini saja kita bisa melihat, bahwa untuk memperoleh kebaikan yang kita inginkan tentu kita harus memiliki kuncinya. Dengan kunci tersebut, kita bisa membuka berbagai pintu-pintu kebaikan.

Dan tanpa kunci itu, kebaikan tidak akan bisa diperoleh. Maka sangat penting kiranya bagi kita untuk mengetahui kunci-kunci kebaikan yang begitu banyak.


KUNCI-KUNCI KEBAIKAN

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, "Allah telah menjadikan kunci sebagai pembuka bagi setiap perkara yang dituntut. Dia menjadikan kunci shalat adalah besuci, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Kunci shalat adalah bersuci." *1

Dan kunci haji adalah ihram. Kunci kebajikan adalah kejujuran. Kunci surga adalah tauhid. Kunci ilmu adalah sikap yang baik dalam bertanya dan mendengar. Kunci pertolongan dan kemenangan adalah kesabaran. Kunci bertambahnya nikmat adalah syukur. Kunci kewalian adalah kecintaan dan dzikir. Kunci keberuntungan adalah takwa. Kunci taufiq adalah raghbah (rasa harap yang disertai dengan amalan) dan rahbah (rasa takut yang disertai dengan amalan).

Kunci ijabah (sambutan Allah) adalah doa. Kunci cinta akhirat adalah zuhud terhaap dunia. Kunci iman adalah memikirkan perkara yang Allah serukan untukdifikirkan oleh hamba-hambaNya. Kunci untuk menjumpai Allah adalah ketundukan hati dan keselamatan hati untuk-Nya, ikhlas kepada-Nya dalam cinta, benci, berbuat dan meninggalkan sesuatu. Kunci hidupnya hati adalah tadabbur (memperhatikan dan merenungi) al-Qur'an, merendahkan diri waktu sahar (waktu malam sebelum fajar) dan meninggalkan dosa.

Kunci mendapatkan rahmat adalah berbuat ihsan dalam beribadah kepada al-Khaliq (Sang Pencipta) dan berusaha memberi manfaat kepada hamba-hambaNya. Kunci rezeki adalah usaha yang disertai dengan istighfar (permohonan ampun kepada Allah) dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kunci persiapan diri untuk akhirat adalah memperpendek angan-angan. Dan kunci segala kebaikan adalah kecintaan kepada Allah dan negri akhirat. Sedangkan kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan.

Ini adalah permasalahan agung yang merupakan permasalahan ilmu paling bermanfaat. Yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan. Tidak ada yang mendapatkan taufik untuk mengetahui dan memperhatikannya kecuali orang yang memiliki bagian dan taufik yang besar." *2

Apa yang beliau sebutkan di atas, tidaklah mencakup seluruh kunci-kunci kebaikan. Karena kita tahu bahwa kebaikan itu sendiri tidak terbatas pada apa yang beliau sebutkan. Meski demikian, perkataan itu cukup untuk memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap kebaikan pasti ada kunci-kuncinya. Dan beliau juga menyebutkan perkara-perkara agung yang sangat dibutuhkan seorang muslim yang beriman.

Di sana masih ada kunci-kunci kebaikan yang disebutkan pada ulama yang lain. Di antaranya *3,

Aun bin Abdillah berkata, "Perhatian seorang hamba terhadap dosanya akan mendorongnya untuk meninggalkan dosa itu. Dan penyesalannya atas dosa itu adalah kunci untuk bertaubat. Seorang hamba senantiasa memperhatikan dosa yang dilakukannya sehingga hal itu menjadi lebih bermanfaat baginya dari pada sebagian kebaikan-kebaikannya." *4

Sufyan bin Uyainah berkata, "Tafakkur (berfikir) adalah kunci rahmat. Tidakkah kamu lihat seseorang berfikir lalu bertaubat." *5

Al-Hasan berkata, "Kunci lautan adalah perahu-perahu. Kunci bumi adalah jalan-jalan. Sedangkan kunci langit adalah doa." *6

Sahl bin Abdillah berkata, "Meninggalkan hawa nafsu adalah kunci surga, berdasarkan firman Allah ta'ala,Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya." )*7*8

Sufyan berkata, "Dahulu dikatan, diam yang lama adalah kunci ibadah." *9

Syaikhul Islam berkata, "Maka kejujuran adalah kunci segala kebaikan, sebagaimana dusta adalah kunci segala keburukan." *10

Beliau juga berkata, "Doa adalah kunci segala kebaikan." *11

Maka dengan memohon pertolongan kepada Allah, kita akan perinci sebagian dari kunci-kunci kebaikan tersebut, dengan harapan bisa memberi manfaat bagi kita semua.

1 Riwayat Abu Daud (no. 61) dan at-Tirmidzi (no. 3). Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami' (no. 5885)
2 Al-Jawabul Kafi (hlm. 100)
3 Nukilan-nukilan berikut diambil dari risalah Syekh Abdurrazaq al-Badr yang berjudul Mafatihul Khair.
4 Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (4/251)
5 Diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dalam al-Azhomah (no. 39)
6 Disebutkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya (14/53)
7 Surat an-Naziat ayat 40-41.
8 Disebutkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya (19/135)
9 Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam ash-Shomt (no. 136)
10 Al-Istiqomah (1/467)
11 Lihat Majmu' al-Fatawa (10/661)


TAUHID: KUNCI SURGA

Kebaikan terpuncak bagi seseorang yang mengimani adanya kampung akhirat adalah menjadi penghuni negri keselamatan, kenikmatan dan kebahagiaan abadi. Dan negri inilah yang menjadi tujuan bagi berbagai pemeluk agama yang ada. Tidak hanya kaum muslimin yang menginginkan hidup di dalam surga, bahkan orang-orang Yahudi ataupun Nasrani mengklaim bahwa surga hanya layak ditempati oleh golongan mereka saja. Allah berfirman, "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, `Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani."

Akan tetapi, Allah langsung membantah mereka dengan firman-Nya dalam ayat yang sama, "Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, `Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." [al-Baqarah: 111]

Iya, dakwaan mereka langsung Allah bantah dan dinyatakan sebagai angan-angan yang kosong. Karena memang surga yang mereka klaim itu sesungguhnya memiliki kunci yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang hanya sekedar mengaku-aku tanpa bukti kepemilikan. Maka Allah pun memerintahkan agar mereka menunjukkan bukti bahwa mereka adalah benar-benar layak masuk surga.

Lalu pada aya berikutnya, Allah menjelaskan apa yang bisa menjadi bukti bahwa seseorang layak masuk surga. Allah berfirman, "(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat ihsan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [al-Baqarah: 112]

Syekh as-Sa'di menjelaskan ayat ini dengan berkata, "Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, maksudnya, barangsiapa mengikhlaskan (memurnikan) amalannya hanya untuk Allah, dengan mengarahkan hatinya hanya kepada-Nya. Sedang ia bersamaan dengan keikhlasannya itu, berbuat ihsan dalam beribadah kepada Rabbnya, yaitu dengan beribadah sesuai dengan syariat-Nya. Maka hanya mereka itulah orang-orang yang berhak menjadi penghuni surga." *12

Sesungguhnya apa yang Allah sebutkan dalam ayat tersebut sebagai bukti seseorang akan masuk surga, tidak lain dan tidak bukan adalah implementasi dari kalimat tauhid laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah.

Kemudian, telah disebutkan dalam Shaih Muslim, dari hadits Umar bin al-Khatthab, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada seorang pun dari kalian yang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian dia mengucapkan `Asyhadu allaa ilaaha illallah wa anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu' melainkan dibuka baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan. Dia akan masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki." *13

Syekh Abdurrazaq al-Badr – hafizhahullah – menegaskan, "Ini adalah dalil yang shahih lagi tegas menunjukkan bahwa pintu-pintu surga yang berjumlah delapan akan dibuka dengan tauhid, dibuka dengan syahadat laa ilaaha illallah. Adapun orang yang tidak melaksanakan tauhid, maka keadaan mereka sebagaimana yang Allah firmankan, "Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum." [al-A'raf: 40] *14
Maka jelaslah bahwa kunci surga adalah tauhid, yaitu pelaksanaan kalimat syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah.
Dan harus kita ketahui bahwa kunci yang agung ini tidak akan memberikan manfaat jika hanya diucapkan saja tanpa pemenuhan hak-haknya. Betapa banyak kaum munafikin yang pada zaman Nabi SAW mengucapkan kalimat yang agung ini, namun karena mereka tidak memenuhi hak-haknya, mereka tetap tidak selamat dari siksaan neraka. Bahkan mereka berada di dasar neraka yang paling dalam. Sebagaimana firman Allah tentang mereka, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." [an-Nisa: 145]
Maka seorang muslim mukmin, yang ingin memiliki kunci ini dan mengambil manfaat darinya, dia harus memenuhi hak-hak dari kalimat ini. Dia harus memenuhi rukun dan syarat dari kalimat tauhid yang dia ucapkan.
Secara ringkas, rukun laa ilaaha illallah ada dua, pertama meniadakan adanya hak untuk diibadahi pada dzat selain Allah. Dan yang kedua adalah menetapkan dan melakukan peribadahan hanya kepada Allah. Sedangkan rukun syahadat Muhammad rasulullah, pertama mengakui bahwa beliau adalah manusia, hamba Allah yang tidak berhak diibadahi. Dan yang kedua menetapkan bahwa beliau adalah utusan Allah, sehingga beliau tidak boleh diremehkan dan dilecehkan, bahkan harus ditaati.
Adapun syarat laa ilaaha illallah, para ulama menyebutkan ada tujuh: ilmu yang meniadakan kebodohan, keyakinan yang menolak keragu-raguan, penerimaan yang meniadakan penolakan, ketundukan yang meniadakan pengabaian, ikhlas yang menolak kesyirikan, kejujuran yang meniadakan kedustaan, dan kecintaan yang menolak kebencian.
Sedangkan syarat syahadat Muhammad rasulullah adalah, mengakui dan meyakini kerasulan beliau secara lahir dan batin, meneladani beliau dengan cara mengamalkan kebenaran yang beliau bawa dan meninggalkan kebatilan yang beliau larang, membenarkan semua berita yang beliau sampaikan, mencintai beliau lebih dari kecintaan terhadap diri sendiri, harta, anak, orangtua, dan seluruh manusia, dan mendahulukan perkataan beliau atas perkataan setiap orang serta mengamalkan sunnah (tuntunan) beliau. *15

12 Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, hlm. 63.
13 Shohih Muslim (no. 234)
14 Mafatihul Khair, hlm. 13
15 Tentang rukun dan syarat dua kalimat syahadat ini, telah dijelaskan oleh Syekh Shalilh al-Fauzan dalam Aqidatul Tauhid hlm. 40-45

SYUKUR: KUNCI NIKMAT
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti mendapatkan nikmat dari Allah. Akan tetapi sayang sekali, hanya sedikit dari mereka yang mau bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Padahal jika mereka bersyukur, kenikmatan yang ada akan bertambah berlipat-lipat, karena syukur adalah kunci pertambahan rezeki. Allah berfirman, "Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"." [Ibrahim: 7]
Jika seseorang memahami perkara yang agung ini, sungguh dia telah mendapatkan kunci yang sangat bermanfaat untuk memperoleh tambahan kebaikan-kebaikan. Karena semua kebaikan yang didapati seorang manusia pada hakikatnya hanyalah kenikmatan yang Allah berikan.
Rezeki yang didapati seorang hamba misalnya, Allah tidak akan memberi tambahan rezeki kepadanya kecuali jika dia mau bersyukur kepada Allah atas rezeki tersebut. Ilmu yang diperoleh seorang penuntut ilmu juga merupakan kenikmatan dari Allah.
Maka jika seorang penuntut ilmu mensyukuri Allah atas ilmu yang telah diperolehnya, niscaya Allah akan memberi tambahan ilmu kepadanya. Demikian juga dengan taufik atau hidayah keimanan yang merupakan nikmat terbesar kepada seorang hamba, akan Allah tambahkan dan tingkatkan keimanan seseorang, manakala dia mensyukurinya.
Dan tentu saja syukur yang dimaksud dilakukan dengan hati, lisan dan anggota badan. Dengan hati, kita mengakui bahwa semua kebaikan itu semata-mata pemberian dan anugrah dari Allah.
Jika ada seseorang yang menganggap bahwa dia mendapat nikmat itu karena memang dia berhak, atau karena kepandaian dan keuletannya, atau karena usahanya, maka ini merupakan salah satu bentuk pengingkaran terhadap nikmat Allah, seperti yang telah Allah sebutkan tentang keadaan Qarun.
Dengan lisan, seorang hamba mengucap syukur kepada-Nya, berterima kasih kepada-Nya dan juga disyariatkan baginya memperbincangkan kenikmatan yang Allah anugrahkan kepadanya, sebagai bentuk syukur kepada-Nya.
Adapun dengan anggota badan, maka dia mempergunakan nikmat yang Allah berikan itu dalam berbagai ketaatan yang disyariatkan. Misalnya, orang yang diberi kemudahan rezeki berupa harta, maka dia bersyukur dengan banyak bersedekah dan mempergunakan harta itu dalam ketaatan, tidak menghambur-hamburka nnya, dan tidak mempergunakannya dalam kemaksiatan. Orang yang diberi ilmu, maka dia amalkan ilmu tersebut, dan dia ajarkan kepada orang lain.

KEMULIAAN: ADA PADA KETAATAN
Kemuliaan hidup adalah salah satu perkara yang dicari manusia. Tidak ada seorang manusia pun yang menginginkan kehinaan dalam hidupnya. Hanya saja, timbangan kemuliaan mereka berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman mereka terhadap hidup ini.
Dalam menyikapi perbedaan pandangan seperti ini, tentu sebagai seorang mukmin yang meyakini bahwa kehidupan ini berada di bawah kekuasaan tunggal Allah SWT, dia akan mengembalikannya kepada bagaimana sesungguhnya Allah memandang permasalahan ini. Karena Allah telah berfirman, "Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya." [Fathir: 10]
Jika demikian, maka sesungguhnya Allah telah menyebutkan kunci kemuliaan dalam firman-Nya, "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu." [al-Hujurat: 13]
Jadi, kemuliaan sesungguhnya hanya ada pada ketakwaan. Yang mana ketakwaan ini terwujud dengan menaati Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, dengan melaksanakan perintah-perintah- Nya dan menjauhi larangan-laranganNy a. Sebagian orang ada yang mencari kemuliaan hidup dengan meniru-niru orang-orang barat yang mana sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. Cara berpakaian, kebiasaan, akhlak, tingkah laku, gaya hidup sampai pada pemikiran pun mereka tidak bisa dibedakan.
Padahal merupakan salah satu bentuk ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya SAW, adalah tidak menyerupai orang-orang kafir dalam berbagai hal yang menjadi kekhususan mereka. Rasulullah SAW bersabda, "Aku diutus di hadapan hari kiamat, dengan membawa pedang sampai hanya Allah semata yang diibadahi, tanpa sekutu bagi-Nya. Dan rizkiku telah dijadikan berada di bawah tombakku. Dan kehinaan serta kerendahan dijadikan bagi siapa saja yang menyelisihi perkaraku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka." *16
16 Di-shahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami', no. 2831

KUNCI REZEKI
Terkadang, seorang manusia rela mengorbankan agama demi mendapatkan secuil rezeki. Mereka berdalih dengan perkataan yang sesungguhnya tidak pantas diucapkan, "mencari rezeki yang haram saja susah apa lagi yang halal."
Seandainya manusia meyakini bahwa rezeki telah ditetapkan oleh Allah, dan dia mengetahui kunci-kuncinya, niscaya dia akan sadar bahwa Allah sangat pemurah dalam membagi-bagi rezeki, dan sesungguhnya mencari rezeki yang halah jauh lebih mudah ketimbang rezeki yang haram.
Pada perkataan Ibnu Qayyim di atas, kita dapati beliau menjelaskan bahwa kunci rezeki adalah usaha yang dibarengi dengan istighfar dan takwa.
Usaha sebagai kunci rezeki tentunya telah jelas bagi setiap orang yang berakal sehat. Karena tatkala seseorang ingin mendapatkan rezeki berarti dia harus berusaha mengais rezeki. Namun yang menjadi focus seorang mukmin dalam berusaha adalah hendaknya usaha yang dilakukan masih dalam daerah usaha yang dibolehkan (halal).
Dan daerah ini sungguh sangat luas sekali, karena ada suatu ketentuan dalam masalah semacam ini, selama tidak ada larangan dari syariat maka usaha itu dibolehkan. Inilah yang menjadikan seorang mukmin berkeyakinan bahwa yang halal lebih mudah dari pada yang haram, karena usaha yang halal itu jauh lebih banyak dari pada yang haram.
Adapun istighfar sebagai kunci rezeki, maka bisa dipahami dari firman Allah SWT, "Maka aku (Nabi Nuh) katakan kepada mereka, `Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampung, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." [Nuh: 10-12]
Sedangkan takwa, secara tegas Allah telah menyatakan, "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." [ath-Thalaq: 2-3]
Maka kepada orang yang masih menganggap usaha haram lebih mudah dari usaha halal, kita katakan, bertakwalah dan tinggalkanlah usaha haram, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki yang tidak disangka-sangka.

KUNCI KEHIDUPAN: HATI
Hati manusia, tak ubahnya seperti jasad manusia, ada yang sehat, sakit dan ada pula yang mati. Akan tetapi, kesehatan hati jauh lebih penting jika dibandingkan dengan kesehatan badan. Hal ini karena kesehatan hati merupakan faktor utama kebaikan lahiriah seorang hamba. Rasulullah SAW telah bersabda,
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, niscaya akan baik seluruh tubuhnya, namun jika segumpal daging itu rusak, niscaya menjadi rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati." [Muttafaq `alaihi]
Maka perhatian seorang mukmin terhadap hatinya, tidak boleh ditempatkan pada posisi yang remeh. Jika hati itu telah mati, segala bentuk kebaikan dan kebenaran tidak akan bisa diterima oleh seseorang.
Di sinilah kita dituntut untuk mengetahui kunci kehidupan hati, jika kita ingin mendapatkan dan menerima kebaikan yang banyak.
Pada perkataan Ibnul Qayyim di atas, beliau telah menjelaskan bahwa kunci kehidupan hati adalah dengan mentadabburi al-Qur'an, merendahkan diri di akhir malam, dan meninggalkan dosa. Sungguh benar apa yang beliau katakan. Al-Qur'an adalah sumber kehidupan hati. Allah SWT berfirman, "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (al-Qur'an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-kitab (al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus."
Syekh Abdurrahman as-Sa'di berkata, "Allah menamai al-Quran dengan ruh, karena dengan ruh jasad bisa hidup sedangkan al-Qur'an akan menghidupkan hati dan jiwa-jiwa. Dengan al-Qur'an, kamaslahatan dunia dan agama akan menjadi hidup, karena dalam al-Qur'an terdapat banyak kebaikan dan ilmu yang melimpah."*17
Makanya, sebagai obat hati yang merasa gundah gelisah, Rasulullah SAW menganjurkan kita berdoa kepada Allah agar menjadikan al-Qur'an ini sebagai penyejuk hati dan cahaya bagi dada. Yaitu dengan doa,
"Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, akan hamba-Mu (Adam), dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku padaku, dan ketetapan-Mu adil pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib yang ada di sisi-Mu, maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku."*18
Begitu pula dengan menjauhi dosa-dosa, adalah salah satu sebab atau kunci hidupnya hati seorang hamba. Karena dosa adalah titik hitam yang mengotori hati manusia. Semakin banyak titik itu melekat dalam hati, maka akan menjadi tutupan kelam yang bisa mematikan hati manusia.
17 Taisirul Karimir Rahman, hlm. 762
18 Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya.
ILMU: KUNCI UTAMA
Setelah kita mengetahui sebagian dari kunci kebaikan di atas, maka di sana ada satu kunci utama sebagai pintu pertama untuk mendapatkan kunci-kunci tersebut.

Tidak lain kunci utama itu adalah ilmu. Karena dengan ilmu, seseorang akan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang mendatangkan cinta dan ridha Allah, dan mana yang akan membawa pada kemurkaan-Nya. Dan dimulai dengan ilmu, seseorang bisa melakukan berbagai amalan. Imam al-Bukhari berkata,
"Ilmu itu (harus ada) sebelum berkata dan beramal."
Dan Rasulullah SAW sendiri telah menegaskan bahwa orang yang dikehendaki baiknya oleh Allah, adalah orang yang diberi pemahaman ilmu agama. Beliau bersabda, "Barangsiapa yang Allah kehendaki ada kebaikan padanya, niscaya akan Dia pahamkan orang itu dalam perkara agama." [Muttafaq `alahi]
Oleh karena itulah, Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya SAW untuk meminta tambahan berupa ilmu. Allah SWT berfirman, "Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu." [Thaha: 114]
"Wahai Allah, berikanlah manfaat kepada kami dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan berikanlah tambahan ilmu kepada kami."

Taqwa dan Karekteistik Orang-Orang Bertaqwa

Taqwa adalah target utama disyari’atkannya Shaum seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh : 183. Sebab itu, saat kita bicara soal Ramadhan dengan segala aktivitasnya, tema taqwa sangat relevan untuk kita bahas.
Taqwa adalah karakter, sikap, prilaku dan kebiasaan. Taqwa adalah hasil, bukan proses. Proses menuju taqwa, di antaranya adalah dengan menjalankan Ramadhan berdasarkan manajemen Rasul Saw. seperti yang sudah kita bahas sebelumnya. Taqwa adalah buah dari keimanan yang mendalam yang melahirkan ketaatan, ibadah, harapan dan ketakutan mutlak kepada sang Pencipta, yakni Allah Ta’ala saat menjalankan kehidupan di dunia yang fana ini.
Sebab itu, taqwa harus dapat dilihat pengaruh dan ciri-cirinya dalam kehidupan. Taqwa harus menjadi tema terpenting setelah iman. Karena iman yang tidak melahirkan taqwa tidak akan bermanfaat banyak dalam kehidupan dunia dan tidak pula di akhirat kelak.
Saking pentingnya, dalam Al-Qur’an tedapat sekitar 158 ayat yang membahas taqwa dan juga puluhan hadits Rasul Saw. Di antara cakupan makna taqwa adalah takut, beribadah, meninggalkan maksiat, mengesakan dan ikhlas kepada Allah.
Dari ayat dan hadits tersebut kita dapat mengetahui dengan mudah karakteristik muttaqin (orang-orang bertaqwa). Di antaranya seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh : 3 – 5 dan 177 serta surat Ali Imran : 133 – 138. Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa di antara sifat muttaqin ialah :
1. MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK HIDUP
2. MEMAHAMI KONSEP KEIMANAN DENGAN BENAR
3. MEMILIKI TANGGUNG JAWAB SOSIAL (BERINFAQ DALAM KEADAAN LAPANG DAN SEMPIT)
4. MENEGAKKAN SHOLAT DAN ZAKAT (AHLI IBADAH)
5. MEMILIKI MORALITAS YANG TINGGI (MENEPATI JANJI, MAMPU MENAHAN MARAH)
6. SABAR MENGHADAPI BERBAGAI KESULITAN HIDUP
7. MAMPU MENGENDALIKAN MARAH / DIRI
8. MEMILIKI SIFAT PEMA’AF
9. BANYAK BERZIKIR & ISTIGHFAR (BERTAUBAT) PADA ALLAH
10. SELALU MUHASABAH DIRI TERHADAP ATURAN MAIN ALLAH
Kunci Sukses Training Manajemen Syahwat Ramadhan
Banyak pertanyaan yang muncul saat kita mejalankan Ramadhan. Di antaranya : Kenapa ibadah Ramadhan, shaumnya sebulan penuh dan berulang setiap tahun? Kenapa malamnya disyari’atkan untuk qiyam (menghidupkan malam dengan berbagai ibadah dan taqorrub ilallah)? Kenapa Ramadhan menjadi waktu yang termahal dan teristimewa bagi kaum Mukmin? Kenapa Lailatul Qadr (malam Qadar) yang nilainya melebihi 1.000 bulan terdapat di malam-malam Ramadhan, khususnya malam-malam sepuluh hari terakhir? Siapkah kita melaksanakan berbagai aktivitas Ramadhan yang dicontohkan Rasul Saw, baik siang maupun malamnya? Sejauh mana kita memahami keistimewaan yang ada dalam bulan tesebut dan sejauh mana kita dapat meraihnya kemudian dapat pula mengimplementasikannya dalam kehidupan kita….
Kalau ada yang bertanya : Kapan waktu termahal, teristimewa dan terindah dalam hidup Anda? Pasti banyak ragam jawaban yang akan kita dengar, tergantung kepada kepahaman dan orientasi hidup masing-masing. Ada yang menjawab, waktu termahal, teristimewa dan terindah dalam hidupnya adalah saat berbulan madu dengan istri/suami yang dicintainya. Ada pula yang menjawab saat ulang tahunnya yang kesekian dan kesekian tahunnya. Ada lagi yang menjawab saat diangkat menjadi pejabat atau meraih target kedudukan atau puncak karir yang dicita-citakannya, atau saat menyambut kelahiran anak yang sudah lama dirindukannya. Tentu ada pula yang menjawab saat meraih nilai kekayaan atau harta yang diimpikannya sejak lama seperti memiliki mobil mahal, rumah mewah, kebun yang luas, dinar dan dirham (uang) yang menumpuk dan sebagainya.
Semua jawaban tersebut sesungguhnya mencerminkan kekurangpahaman terhadap keistimewaan yang Allah ciptakan dalam bulan Ramadhan. Atau bisa saja faham, namun belum atau tidak berdaya melawan belenggu hawa nafsunya. Sebab itu tidak jarang kita lihat Ramadhan berlalu tanpa ada bekas taqwa yang menghiasi kehidupan sehari-hari. Hawa nafsu tetap saja sebagai tuhan yang dita’ati. Spirit ibadah dan taqarrub pada Allah tetap saja melemah kendati sudah melewati Ramadhan puluhan kali.
Kalau saja ibadah Ramadhan dijalankan sesuai manajemen Rasul Saw. baik kualitas maupun kuantitas, maka 8,47 % dari umur kita adalah shiyam dan qiyam (Training Manajemen Syahwat dan Ibadah). Jika ditambah dengan 6 hari bulan Syawal, maka 9,88 % dari hidup kita adalah Training Manajemen Syahwat dan Ibadah. Jika diteruskan dengan Senin, Kamis dan ayyamulbidh, maka 42,93 % dari hidup kita adalah Training Manajemen Syahwat dan Ibadah. Apabila kita tambahkan Ramadhan dengan shaum 6 hari di bulan Syawal dan diteruskan dengan shaum nabi Daud, maka 55,08 % dari umur kita adalah mengikuti Training Manajemen Syahwat dan Ibadah. Alangkah indahnya jika kita mampu melaksanakannya.
Secara kualitas, ada dua hal yang perlu diperhatikan :
1. Makna shaum, yakni menahan diri dari berbagai godaan syahwat. Artinya, jka kita benar-benar serius ingin mencapai derajat taqwa, syahwat harus dikendalikan, bukan hanya terhadap yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi juga terhadap yang halal. Orang-orang bertaqwa, seperti yang dikatakan Arraghib Al-Asfahani : Harus mampu menahan diri dari apa saja yang menyebabkan dosa pada Allah. Yang demikian itu hanya terlaksana dengan meninggalkan apa saja yang dilarang Allah dan meninggalkan sebagian yang dibolehkan jika berimplikasi kepada dosa dan lalai mengingat Allah. Misalnya, dengan mobil mahal, rumah mewah, pakaian bermerek dan sebagainya, jika menimbulkan rasa angkuh, sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain yang di bawahnya, maka berarti hal-hal yang dibolehkan tersebut telah menjerumuskannya ke dalam dosa. Orang-orang yang bertaqwa paham betul hal tersebut akan membahayakannya. Sebab itu dia dengan mudah mampu menghindarinya. Bukan sebaliknya, mencar-cari dalil pembenarannya.
2. Makna qiyam (berdiri tegak dan penuh spirit beribadah kepada Allah). Qiyam Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini sepenuhnya untuk ibadah dan ketaatan pada Allah, bukan yang lainnya. Orang yang mampu menghambakan dirinya hanya kepada Allah adalah orang yang beriman kepada-Nya, memiliki ilmu tentang agama / aturan main yang diciptakan-Nya dan mampu memenej syahwat yang ada dalam dirinya. Sebab itu, Manajemen Ramadhan Rasul Saw. tidak cukup dengan shiyam saja atau qiyam saja. Keduanya berjalan seiring dan dilaksakan siang dan malam serta dilandasi iman dan ihtisaban seperti Beliau jelaskan dalam haditsnya. Ramadhan dengan konsep qiyamnya, juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap kita harus memiliki ibadah unggulan, di luar ibadah fardhu, yang mungkin kita lakuan dengan intensitas yang tinggi dan kontinyu, sebagaimana para Sahabat Rasul Saw.
Inilah dua kunci utama kesuksesan orang-orang yang menjalankan ibadah Ramadhan, yakni shiyam dan qiyam. Jika kedua hal tersebut dapat terlaksana dengan baik, maksimal dan seimbang di bulan Ramadhan termasuk pada 10 hari terakhir Ramadhan, maka tidak diragukan manfaat Training Manajemen Syahwat selama Ramadhan insyaa Allah efektif dalam pembentukan karakter muttaqin (orang-orang yang bertaqwa).

Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas: Taqwa, Kunci Sukses dan Kejayaan

“Wahai dunia, siapa yang mengabdi kepada-Ku, maka mengabdilah engkau kepadanya. Dan barang siapa mengabdi kepadamu, maka binasakanlah dia.”
Kamis (17/6), matahari begitu terik menyinari kawasan kota Jakarta. Saat itu, di kantor alKisah, beberapa kru terlihat tengah sibuk di ruang utama. Harun Musawa, pemred, Ali Yahya, redaktur pelaksana senior, dan Trianto, salah satu anggota Tim Manajemen, berada di antara kru yang sedang bekerja. Mereka sedang mengawasi pelaksanaan rekaman Khatmul Qur’an, yang dibawakan oleh Sayyid Agil Munawar, mantan menteri agama RI. Semuanya turut hanyut dalam lantunan merdu senandung Al-Quran dari suara merdu Sayyid Agil.

Tiba-tiba, sebuah mobil Cevrolet hitam metalik memasuki pelataran kantor alKisah. Dari dalam mobil keluar sosok muda berwibawa dengan wajah berseri, yang tidak lain adalah Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas, putra Habib Abdurrahman bin Syech Al-Attas, pemimpin Pondok Pesantren Al-Mashyhad, Sukabumi, dan menantu Habib Husein bin Ali bin Husein Al-Attas (Habib Ali Bungur). Habib Mahdi tiba di kantor alKisah pada pukul 14.50 WIB, didampingi istrinya. Pemred dan beberapa kru pun buru-buru menyambut kedatangannya.

Sungguh satu contoh yang sangat patut dijadikan suri teladan bagi kita semua. Habib Mahdi telah tiba di majelis satu jam sebelum acara dimulai, bahkan sebelum satu jama’ah pun hadir di majelis.

Pukul 16.00, puluhan jama’ah setia majelis Zawiyah alKisah memadati ruangan. Acara pun dimulai dengan pembacaan Wirdul Lathif. Habib Mahdi membukannya dengan memimpin pembacaan Fatihah. Sekitar 25 menit majelis bergema dengan lafazh-lafazh dzikir dan doa. Semua jama’ah hanyut dan larut dalam kekhusyu’annya masing-masing.

Dunia hanyalah Persinggahan

Setelah Wirdul Lathif usai dibaca, acara pun dilanjutkan dengan taushiyah, yang disampaikan oleh Habib Mahdi. Setelah untaian tawassul kepada Rasulullah SAW dan awliya’, Habib Mahdi memulai wejangannya.

“Dalam kehidupan yang penuh dengan ujian, kesulitan, kesusahan, baik dialami oleh individu maupun masyarakat nasional, setiap kita merasakan kegelisahan bahkan terkadang  keputusasaan. Hal ini kemudian menjadikan lahirnya iri, dengki, dan akhirnya membawa kepada perbuatan menghalalkan segala cara.

Allah SWT berfirman, ‘Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.’ – QS An-Naba (78): 10-11. 

Allah SWT telah menjadikan siang hari untuk mencari nafkah, sedangkan malam hari untuk istirahat. Allah memberikan jalan kepada kita untuk mencari nafkah, tapi jangan lupa kaidah untuk mencari nafkah, karena sering kali kita menomorsepuluhkan Allah pada saat berurusan dengan urusan diniawi kita.

Saat ini banyak muslim yang terkadang sudah bosen menjadi orang Islam. Bila dulu,  setelah maghrib, anak-anak sudah duduk rapi untuk mengaji atau pergi ke mushalla, saat ini, maghrib dan isya, anak belum pulang tidak ada apa-apa.

Kok bisa kita disebut bosen dengan Islam! Karena dalam keseharian kita sudah melupakan dan tidak menggunakan tata cara kehidupan yang Islami. Ibadah diabaikan, shalat ditinggalkan, mengaji dilupakan. Pulang kerja langsung nonton bola, jam tiga pagi masih di depan bola, padahal belum shalat Isya, lalu ketiduran, shalat Subuh pun lewat, setelah itu bangun dan langsung bekerja. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan lebih penting daripada Allah SWT. Akibatnya, tidak ada lagi keberkahan pada apa yang kita cari dan kita dapatkan.

Allah SWT berfirman, ‘… barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” – QS Ath-Thalaq (65): 2-3.

Ayat ini memberikan petunjuk bagi setiap umat Rasulullah SAW. Dalam keseharian, seorang muslim bergaul sebagai insan biasa, namun, di saat Allah memanggil, ia tampil paling pertama untuk menunaikannya.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, penyususun Ratib Al-Haddad dan al-Wird al-Lathif, berkata, ‘Bukanlah dunia sebagai negeri tanah air, melainkan hanyalah persinggahan untuk menuju negeri yang sebenarnya (akhirat).’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Cinta tanah air adalah bagian dari iman.’ Tanah air kita yang sebenarnya adalah akhirat, sehingga makna hadits ini adalah agar kita selalu merindukan negeri akhirat, karena dunia ini bukanlah negeri kita. Nabi Adam Allah ciptakan di surga lalu turun ke bumi. Itulah sebabnya, bumi ini bukanlah negeri kita.

Kurma Paling Buruk

Banyak contoh yang bisa kita ambil pelajaran dari ketaqwaan orang-orang pilihan Allah.

Al-Habib Syech Abu Bakar bin Salim, ketika sedang menjelaskan ayat tersebut, Ath-Thalaq: 2-3, ada dua orang jama’ah nyeletuk di belakang, ‘Apa bener begitu?’

Lalu Habib Syech berkata kepada salah seorang muridnya, ‘Hai muridku, di belakang ada 40 karung kurma yang paling jelek di Hadhramaut, yang nilainya tidak lebih dari empat dinar. Jual-lah kurma itu ke Irak, dan jangan engkau jual satu butir pun kurang dari satu dinar per butirnya. Aku ingin membuktikan bahwa janji Allah itu benar.’

Selama dalam perjalanan murid-murid Habib Syech terus dilanda kebingungan dan keheranan. Bagaimana mungkin kurma yang paling buruk akan dijual satu dinar per butir, sementara kurma Irak saja, yang bagus, harganya satu dinar per kilonya.

Setelah melakukan perjalanan beberapa lama, murid-murid Habib Syech tiba di suatu daerah di Irak. Ternyata daerah tersebut tengah dilanda wabah penyakit yang ganas. Tiba-tiba seorang anak kecil, yang juga sedang menderita penyakit yang sedang mewabah di daerah itu, menghampiri mereka dan melihat-lihat kurma yang ada di karung. Karena merasa tertarik, ia pun meminta kurma yang ada di karung.

Sebutir kurma dikeluarkan dan diberikan kepada anak tadi. Subhanallah, dengan izin Allah, beberapa saat kemudian anak itu sembuh dari penyakitnya.

Karena begitu gembira, anak itu pun berlari-lari di pasar sembari meneriakkan bahwa ada kurma yang dapat menyembuhkan penyakitnya.

Tidak lama kemudian orang-orang datang berduyun-duyun untuk membeli kurma. Namun murid-murid Habib Syech menjelaskan, kurma itu hanya dijual dengan harga satu dinar per butir. Demikianlah karamah Habib Syech, meski dihargai dengan harga yang tidak wajar, mereka berebut untuk membelinya, hingga tak berapa lama kurma-kurma pun telah habis terjual seluruhnya, sementara murid-murid Habib Syech hanya terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut.

Setelah rombongan pembawa kurma kembali ke Hadhramaut dengan membawa hasil dagangan yang sangat besar, Habib Syech berkata, ‘Inilah janji Allah kepadaku. Sekarang bagikanlah!’

Demikianlah kekuatan keyakinan Habib Syech kepada Allah SWT. Maka Allah buktikan janji-Nya. Adapun kita selalu mengucapkan tetapi tidak melakukan. Dalam setiap shalat, pasti kita baca, ‘Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).’ Tapi dalam keseharian kita, na`budu kita lupa, nasta`in-nya pun kita lupa.

Contoh lain yang nyata dan bisa dijadikan pelajaran yang bisa kita petik adalah pelajaran dari makam-makam awliya’ di tanah air, misalnya, seperti makam Habib Husein Alaydrus Luar Batang. Habib Husein telah wafat lebih dari seratus tahun yang lalu, sebelum kita semua lahir. Namun, setiap tahun, haul digelar dan rangkaian Maulid pun diadakan, makanan disuguhkan bagi ratusan ribu muhibbin yang datang dan hadir. Bukan hanya itu, berapa banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sekitar makam beliau. Perhatikanlah rizqi yang Allah berikan kepada Habib Husein! Bukan hanya semasa hidupnya Habib Husein memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan sesudah wafat pun berapa banyak yang mendapatkan manfaat dari beliau sebagai buah dari kedekatan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Wa`budullah

Kunci semua kesuksesan itu adalah ‘wa`budullah’, ‘sembahlah Allah’. Kesuksesan dan kejayaan akan mudah dicapai bila kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Kesuksesan dan kejayaan dari Allah SWT, bukan kejayaan dari manusia. Karena kejayaan atau jabatan yang berasal dari manusia akan mudah jatuh, pupus, dan hilang, tetapi kejayaan dan kesuksesan yang Allah berikan, tidak ada seorang pun yang dapat meruntuhkannya.

Satu hal yang perlu diingat, kita semua ini, umat Rasulullah SAW, adalah mutiara dan intan berlian yang paling berharga, tinggal di mana kita menempatkannya. Bila ditempatkan di tempat yang mulia, pasti akan memunculkan kemilau yang indah dan akan mahal serta tinggi nilainya, namun bila ditaruh di tempat sampah, nilainya pun akan ikut kepada tempat di mana ia berada.

Ada satu firman Allah, dalam sebuah hadits qudsi, yang perlu selalu kita renungkan, Allah SWT berfirman, ‘Wahai dunia, siapa yang mengabdi kepada-Ku, maka engkau harus mengabdi kepadanya. Dan barang siapa mengabdi kepadamu, maka binasakanlah dia.’

Demikian pula sebuah hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda, ‘Bekerjalah untuk duniamu seakan engkau hidup untuk selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok hari’.”

Hadits ini menjadi penutup uraian panjang mauizhah hasanah yang disampaikan Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas. Sebagian jama’ah terlihat sudah tak sabar untuk mengajukan pertanyaan.

Amalan Mudah Rizqi

“Habib, Allah sudah memberikan satu tuntunan bahwa siang hari untuk mencari nafkah dan malam hari untuk istirahat. Lalu bagaimana bila seseorang menjadikan keduanya untuk mencari materi, apakah tidak menyalahi sunnatullah?” tanya Bapak Yasir dari Tanggerang mengawali sesi tanya-jawab.

“Allah menjadikan siang sebagai waktu untuk mencari nafkah dan malam sebagai waktu untuk beristirahat. Pada malam hari ada sesuatu yang paling indah, yaitu masa untuk mendekatkan diri kepada Allah, terutama di saat kebanyakan manusia lelap tertidur. Kita bangun untuk mengadu dan bermunajat kepada Allah. Maknanya, bila seseorang menggunakan semua waktunya, siang dan malam, untuk mencari materi, akan hilang keberkahannya. Materi boleh semakin bertambah, tapi keberkahan hilang dari kehidupannya.”

“Habib, apa kriteria orang yang bertaqwa kepada Allah, sehingga dapat meraih kejayaan dengan mudah, serta adakah amalan agar kita selalu ikhlas? Dan bagaimana dengan fenomena yang kita saksikan bahwa kebanyakan orang yang ahli ibadah justru susah hidupnya?” tanya Sita, salah satu redaktur alKisah.

“Ketaqwaan seseorang terlihat tatkala ia mampu untuk selalu qanaah dengan apa yang diberikan oleh Allah, tidak menginginkan apa pun yang Allah haramkan, dan melaksanakan iyyaka na`budu secara benar, banyak meneteskan air mata di hadapan Allah.

Banyak orang beranggapan, kesuksesan hanya terdapat pada harta yang berlimpah, dan lupa bahwa, makin banyak harta seseorang, makin diperbudak hidupnya oleh hartanya.

Adapun doa untuk ikhlas itu banyak, namun kuncinya adalah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ‘Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya; dan bila engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.’

Adapun amalan agar dimudahkan rizqi, dimudahkan segala urusan, dan mendapatkan keberkahan, istiqamahkan membaca surah Thaha dan Al-Waqi`ah setelah shalat Subuh, disertai shalat Dhuha. Dan bagi yang tidak mampu melakukannya, dapat mengamalkan membaca surah Al-Quraisy sebanyak sebelas kali setiap ba`da subuh dan sesudah ashar, sebagaimana yang diijazahkan oleh Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syathiri kepada saya.” (Amalan ini diijazahkan secara khusus kepada jama’ah yang menghadiri Zawiyah alKisah, yang tentu saja fadhilahnya berbeda).

Selanjutnya Ibu Salwati menanyakan hukum shalat Tahiyatul Masjid setelah melakukan shalat Ashar.

“Boleh melakukan shalat setelah shalat Ashar bila ada sebab mutaqaddim, sebab terdahulu, seperti shalat Tahiyatul Masjid, shalat Jenazah, dan shalat sunnah wudhu.”

Penanya terakhir, karena waktu yang tidak mengizinkan, adalah Bapak Adi. Ia menanyakan kiat agar tetap istiqamah dan kuat dalam menghadapi berbagai gangguan ibadah.

“Kuncinya, selalu mengingat bahwa kita seorang diri saat kematian datang menjemput. Jangan hiraukan orang lain saat kita hendak melakukan ibadah, dan ingatlah bahwa nyawa ini bukanlah hak milik, hanya hak pakai, titipan dari Allah SWT. Kapan pun Allah akan mengambil titipan-Nya, tidak seorang pun dapat menolaknya,” jawab Habib Mahdi menutup sesi tanya-jawab.

Hadirin merasa puas dengan taushiyah dan jawaban yang disampaikan Habib Mahdi dengan jelas dan lugas, yang juga sering dibumbui dengan canda segar yang membuat hadirin tertawa kecil tapi terus antusias sejak awal hingga akhir majelis.



Setelah ditutup doa oleh Habib Mahdi, bubur biji salak yang lezat ditemani secangkir kopi jahe panas ala Pekalongan dibagikan di antara jama’ah. Keakraban begitu terasa di sela-sela menyantap hidangan yang disediakan. Sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi siapa pun yang hadir di majelis. Berkumpul bersama dzuriyah Rasulullah SAW, berdzikir, bershalawat, mendengarkan taushiyah, uraian ilmu, bercengkerama ditemani hangatnya kopi jahe dan hidangan alakadarnya, sungguh kesan yang selalu indah untuk dikenang. Semoga Allah senantiasa meneguhkan langkah ini untuk selalu hadir di majelis ini, agar dapat bertatap muka dengan para cucu Rasulullah SAW dan para dai, yang mengajak ke jalan-Mu, mendengarkan untaian mutiara indah, nasihat penuh makna dari lisan mereka, sosok-sosok mulia pilihan Allah. Amien ya Rabbal `alamin….
“Wahai dunia, siapa yang mengabdi kepada-Ku, maka mengabdilah engkau kepadanya. Dan barang siapa mengabdi kepadamu, maka binasakanlah dia.”
Kamis (17/6), matahari begitu terik menyinari kawasan kota Jakarta. Saat itu, di kantor alKisah, beberapa kru terlihat tengah sibuk di ruang utama. Harun Musawa, pemred, Ali Yahya, redaktur pelaksana senior, dan Trianto, salah satu anggota Tim Manajemen, berada di antara kru yang sedang bekerja. Mereka sedang mengawasi pelaksanaan rekaman Khatmul Qur’an, yang dibawakan oleh Sayyid Agil Munawar, mantan menteri agama RI. Semuanya turut hanyut dalam lantunan merdu senandung Al-Quran dari suara merdu Sayyid Agil.

Tiba-tiba, sebuah mobil Cevrolet hitam metalik memasuki pelataran kantor alKisah. Dari dalam mobil keluar sosok muda berwibawa dengan wajah berseri, yang tidak lain adalah Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas, putra Habib Abdurrahman bin Syech Al-Attas, pemimpin Pondok Pesantren Al-Mashyhad, Sukabumi, dan menantu Habib Husein bin Ali bin Husein Al-Attas (Habib Ali Bungur). Habib Mahdi tiba di kantor alKisah pada pukul 14.50 WIB, didampingi istrinya. Pemred dan beberapa kru pun buru-buru menyambut kedatangannya.

Sungguh satu contoh yang sangat patut dijadikan suri teladan bagi kita semua. Habib Mahdi telah tiba di majelis satu jam sebelum acara dimulai, bahkan sebelum satu jama’ah pun hadir di majelis.

Pukul 16.00, puluhan jama’ah setia majelis Zawiyah alKisah memadati ruangan. Acara pun dimulai dengan pembacaan Wirdul Lathif. Habib Mahdi membukannya dengan memimpin pembacaan Fatihah. Sekitar 25 menit majelis bergema dengan lafazh-lafazh dzikir dan doa. Semua jama’ah hanyut dan larut dalam kekhusyu’annya masing-masing.

Dunia hanyalah Persinggahan

Setelah Wirdul Lathif usai dibaca, acara pun dilanjutkan dengan taushiyah, yang disampaikan oleh Habib Mahdi. Setelah untaian tawassul kepada Rasulullah SAW dan awliya’, Habib Mahdi memulai wejangannya.

“Dalam kehidupan yang penuh dengan ujian, kesulitan, kesusahan, baik dialami oleh individu maupun masyarakat nasional, setiap kita merasakan kegelisahan bahkan terkadang  keputusasaan. Hal ini kemudian menjadikan lahirnya iri, dengki, dan akhirnya membawa kepada perbuatan menghalalkan segala cara.

Allah SWT berfirman, ‘Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.’ – QS An-Naba (78): 10-11. 

Allah SWT telah menjadikan siang hari untuk mencari nafkah, sedangkan malam hari untuk istirahat. Allah memberikan jalan kepada kita untuk mencari nafkah, tapi jangan lupa kaidah untuk mencari nafkah, karena sering kali kita menomorsepuluhkan Allah pada saat berurusan dengan urusan diniawi kita.

Saat ini banyak muslim yang terkadang sudah bosen menjadi orang Islam. Bila dulu,  setelah maghrib, anak-anak sudah duduk rapi untuk mengaji atau pergi ke mushalla, saat ini, maghrib dan isya, anak belum pulang tidak ada apa-apa.

Kok bisa kita disebut bosen dengan Islam! Karena dalam keseharian kita sudah melupakan dan tidak menggunakan tata cara kehidupan yang Islami. Ibadah diabaikan, shalat ditinggalkan, mengaji dilupakan. Pulang kerja langsung nonton bola, jam tiga pagi masih di depan bola, padahal belum shalat Isya, lalu ketiduran, shalat Subuh pun lewat, setelah itu bangun dan langsung bekerja. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan lebih penting daripada Allah SWT. Akibatnya, tidak ada lagi keberkahan pada apa yang kita cari dan kita dapatkan.

Allah SWT berfirman, ‘… barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” – QS Ath-Thalaq (65): 2-3.

Ayat ini memberikan petunjuk bagi setiap umat Rasulullah SAW. Dalam keseharian, seorang muslim bergaul sebagai insan biasa, namun, di saat Allah memanggil, ia tampil paling pertama untuk menunaikannya.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, penyususun Ratib Al-Haddad dan al-Wird al-Lathif, berkata, ‘Bukanlah dunia sebagai negeri tanah air, melainkan hanyalah persinggahan untuk menuju negeri yang sebenarnya (akhirat).’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Cinta tanah air adalah bagian dari iman.’ Tanah air kita yang sebenarnya adalah akhirat, sehingga makna hadits ini adalah agar kita selalu merindukan negeri akhirat, karena dunia ini bukanlah negeri kita. Nabi Adam Allah ciptakan di surga lalu turun ke bumi. Itulah sebabnya, bumi ini bukanlah negeri kita.

Kurma Paling Buruk

Banyak contoh yang bisa kita ambil pelajaran dari ketaqwaan orang-orang pilihan Allah.

Al-Habib Syech Abu Bakar bin Salim, ketika sedang menjelaskan ayat tersebut, Ath-Thalaq: 2-3, ada dua orang jama’ah nyeletuk di belakang, ‘Apa bener begitu?’

Lalu Habib Syech berkata kepada salah seorang muridnya, ‘Hai muridku, di belakang ada 40 karung kurma yang paling jelek di Hadhramaut, yang nilainya tidak lebih dari empat dinar. Jual-lah kurma itu ke Irak, dan jangan engkau jual satu butir pun kurang dari satu dinar per butirnya. Aku ingin membuktikan bahwa janji Allah itu benar.’

Selama dalam perjalanan murid-murid Habib Syech terus dilanda kebingungan dan keheranan. Bagaimana mungkin kurma yang paling buruk akan dijual satu dinar per butir, sementara kurma Irak saja, yang bagus, harganya satu dinar per kilonya.

Setelah melakukan perjalanan beberapa lama, murid-murid Habib Syech tiba di suatu daerah di Irak. Ternyata daerah tersebut tengah dilanda wabah penyakit yang ganas. Tiba-tiba seorang anak kecil, yang juga sedang menderita penyakit yang sedang mewabah di daerah itu, menghampiri mereka dan melihat-lihat kurma yang ada di karung. Karena merasa tertarik, ia pun meminta kurma yang ada di karung.

Sebutir kurma dikeluarkan dan diberikan kepada anak tadi. Subhanallah, dengan izin Allah, beberapa saat kemudian anak itu sembuh dari penyakitnya.

Karena begitu gembira, anak itu pun berlari-lari di pasar sembari meneriakkan bahwa ada kurma yang dapat menyembuhkan penyakitnya.

Tidak lama kemudian orang-orang datang berduyun-duyun untuk membeli kurma. Namun murid-murid Habib Syech menjelaskan, kurma itu hanya dijual dengan harga satu dinar per butir. Demikianlah karamah Habib Syech, meski dihargai dengan harga yang tidak wajar, mereka berebut untuk membelinya, hingga tak berapa lama kurma-kurma pun telah habis terjual seluruhnya, sementara murid-murid Habib Syech hanya terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut.

Setelah rombongan pembawa kurma kembali ke Hadhramaut dengan membawa hasil dagangan yang sangat besar, Habib Syech berkata, ‘Inilah janji Allah kepadaku. Sekarang bagikanlah!’

Demikianlah kekuatan keyakinan Habib Syech kepada Allah SWT. Maka Allah buktikan janji-Nya. Adapun kita selalu mengucapkan tetapi tidak melakukan. Dalam setiap shalat, pasti kita baca, ‘Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).’ Tapi dalam keseharian kita, na`budu kita lupa, nasta`in-nya pun kita lupa.

Contoh lain yang nyata dan bisa dijadikan pelajaran yang bisa kita petik adalah pelajaran dari makam-makam awliya’ di tanah air, misalnya, seperti makam Habib Husein Alaydrus Luar Batang. Habib Husein telah wafat lebih dari seratus tahun yang lalu, sebelum kita semua lahir. Namun, setiap tahun, haul digelar dan rangkaian Maulid pun diadakan, makanan disuguhkan bagi ratusan ribu muhibbin yang datang dan hadir. Bukan hanya itu, berapa banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sekitar makam beliau. Perhatikanlah rizqi yang Allah berikan kepada Habib Husein! Bukan hanya semasa hidupnya Habib Husein memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan sesudah wafat pun berapa banyak yang mendapatkan manfaat dari beliau sebagai buah dari kedekatan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Wa`budullah

Kunci semua kesuksesan itu adalah ‘wa`budullah’, ‘sembahlah Allah’. Kesuksesan dan kejayaan akan mudah dicapai bila kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Kesuksesan dan kejayaan dari Allah SWT, bukan kejayaan dari manusia. Karena kejayaan atau jabatan yang berasal dari manusia akan mudah jatuh, pupus, dan hilang, tetapi kejayaan dan kesuksesan yang Allah berikan, tidak ada seorang pun yang dapat meruntuhkannya.

Satu hal yang perlu diingat, kita semua ini, umat Rasulullah SAW, adalah mutiara dan intan berlian yang paling berharga, tinggal di mana kita menempatkannya. Bila ditempatkan di tempat yang mulia, pasti akan memunculkan kemilau yang indah dan akan mahal serta tinggi nilainya, namun bila ditaruh di tempat sampah, nilainya pun akan ikut kepada tempat di mana ia berada.

Ada satu firman Allah, dalam sebuah hadits qudsi, yang perlu selalu kita renungkan, Allah SWT berfirman, ‘Wahai dunia, siapa yang mengabdi kepada-Ku, maka engkau harus mengabdi kepadanya. Dan barang siapa mengabdi kepadamu, maka binasakanlah dia.’

Demikian pula sebuah hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda, ‘Bekerjalah untuk duniamu seakan engkau hidup untuk selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok hari’.”

Hadits ini menjadi penutup uraian panjang mauizhah hasanah yang disampaikan Habib Mahdi bin Abdurrahman Al-Attas. Sebagian jama’ah terlihat sudah tak sabar untuk mengajukan pertanyaan.

Amalan Mudah Rizqi

“Habib, Allah sudah memberikan satu tuntunan bahwa siang hari untuk mencari nafkah dan malam hari untuk istirahat. Lalu bagaimana bila seseorang menjadikan keduanya untuk mencari materi, apakah tidak menyalahi sunnatullah?” tanya Bapak Yasir dari Tanggerang mengawali sesi tanya-jawab.

“Allah menjadikan siang sebagai waktu untuk mencari nafkah dan malam sebagai waktu untuk beristirahat. Pada malam hari ada sesuatu yang paling indah, yaitu masa untuk mendekatkan diri kepada Allah, terutama di saat kebanyakan manusia lelap tertidur. Kita bangun untuk mengadu dan bermunajat kepada Allah. Maknanya, bila seseorang menggunakan semua waktunya, siang dan malam, untuk mencari materi, akan hilang keberkahannya. Materi boleh semakin bertambah, tapi keberkahan hilang dari kehidupannya.”

“Habib, apa kriteria orang yang bertaqwa kepada Allah, sehingga dapat meraih kejayaan dengan mudah, serta adakah amalan agar kita selalu ikhlas? Dan bagaimana dengan fenomena yang kita saksikan bahwa kebanyakan orang yang ahli ibadah justru susah hidupnya?” tanya Sita, salah satu redaktur alKisah.

“Ketaqwaan seseorang terlihat tatkala ia mampu untuk selalu qanaah dengan apa yang diberikan oleh Allah, tidak menginginkan apa pun yang Allah haramkan, dan melaksanakan iyyaka na`budu secara benar, banyak meneteskan air mata di hadapan Allah.

Banyak orang beranggapan, kesuksesan hanya terdapat pada harta yang berlimpah, dan lupa bahwa, makin banyak harta seseorang, makin diperbudak hidupnya oleh hartanya.

Adapun doa untuk ikhlas itu banyak, namun kuncinya adalah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ‘Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya; dan bila engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.’

Adapun amalan agar dimudahkan rizqi, dimudahkan segala urusan, dan mendapatkan keberkahan, istiqamahkan membaca surah Thaha dan Al-Waqi`ah setelah shalat Subuh, disertai shalat Dhuha. Dan bagi yang tidak mampu melakukannya, dapat mengamalkan membaca surah Al-Quraisy sebanyak sebelas kali setiap ba`da subuh dan sesudah ashar, sebagaimana yang diijazahkan oleh Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syathiri kepada saya.” (Amalan ini diijazahkan secara khusus kepada jama’ah yang menghadiri Zawiyah alKisah, yang tentu saja fadhilahnya berbeda).

Selanjutnya Ibu Salwati menanyakan hukum shalat Tahiyatul Masjid setelah melakukan shalat Ashar.

“Boleh melakukan shalat setelah shalat Ashar bila ada sebab mutaqaddim, sebab terdahulu, seperti shalat Tahiyatul Masjid, shalat Jenazah, dan shalat sunnah wudhu.”

Penanya terakhir, karena waktu yang tidak mengizinkan, adalah Bapak Adi. Ia menanyakan kiat agar tetap istiqamah dan kuat dalam menghadapi berbagai gangguan ibadah.

“Kuncinya, selalu mengingat bahwa kita seorang diri saat kematian datang menjemput. Jangan hiraukan orang lain saat kita hendak melakukan ibadah, dan ingatlah bahwa nyawa ini bukanlah hak milik, hanya hak pakai, titipan dari Allah SWT. Kapan pun Allah akan mengambil titipan-Nya, tidak seorang pun dapat menolaknya,” jawab Habib Mahdi menutup sesi tanya-jawab.

Hadirin merasa puas dengan taushiyah dan jawaban yang disampaikan Habib Mahdi dengan jelas dan lugas, yang juga sering dibumbui dengan canda segar yang membuat hadirin tertawa kecil tapi terus antusias sejak awal hingga akhir majelis.



Setelah ditutup doa oleh Habib Mahdi, bubur biji salak yang lezat ditemani secangkir kopi jahe panas ala Pekalongan dibagikan di antara jama’ah. Keakraban begitu terasa di sela-sela menyantap hidangan yang disediakan. Sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi siapa pun yang hadir di majelis. Berkumpul bersama dzuriyah Rasulullah SAW, berdzikir, bershalawat, mendengarkan taushiyah, uraian ilmu, bercengkerama ditemani hangatnya kopi jahe dan hidangan alakadarnya, sungguh kesan yang selalu indah untuk dikenang. Semoga Allah senantiasa meneguhkan langkah ini untuk selalu hadir di majelis ini, agar dapat bertatap muka dengan para cucu Rasulullah SAW dan para dai, yang mengajak ke jalan-Mu, mendengarkan untaian mutiara indah, nasihat penuh makna dari lisan mereka, sosok-sosok mulia pilihan Allah. Amien ya Rabbal `alamin….

TAKWA KUNCI UTAMA DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

 Menjadi seorang muslim belum mendapat jaminan dari Allah, yang akan Allah bela. Menjadi orang Islam semata-mata belum ada jaminan dari Allah akan diampunkan dosanya. Menjadi orang Islam saja belum ada jaminan dari Allah bahwa amal ibadahnya akan diterima. Menjadi orang Islam saja belum ada jaminan bahwa Allah akan memberi bantuan dariNya. Karena menjadi seorang muslim atau seorang Islam itu mudah. Apabila sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka tidak boleh dianggap dia itu seorang kafir. Lebih-lebih lagi seseorang itu sudah shalat, berpuasa, naik haji, kita tidak boleh menuduh orang itu kafir. Dia termasuk dalam golongan Islam tetapi belum tentu ia seorang bertaqwa.
Setelah menjadi orang bertaqwa baru ada jaminan dan pembelaan dari Allah di dunia dan di Akhirat. Bila jadi orang bertaqwa barulah dosa diampunkan, barulah amal ibadah ini diterima, barulah mendapat pimpinan dari Allah. Secara langsung Allah menjadi pemimpinnya. Bila menjadi orang bertaqwa pintu rezeki akan terbuka, tidak tahu dari mana asalnya. Dan Allah SWT selalu mudahkan kerja-kerjanya. Bila kerja sedikit, hasilnya banyak. Kalau kerja banyak, lebih banyaklah yang akan diperoleh. Hal inilah yang dijelaskan oleh Allah melalui firmanNya : “Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah beri jalan keluar dari kesusahan dan akan diberi rezeki dari arah yang tidak terduga-duga”. (QS At Talaq 2 – 3) “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan mempermudah segala urusannya“. (QS At-Talaq 4). Serta firman Allah dalam surat Al-Jasiah ayat 19:”Allah menjadi pemimpin (pembela) bagi orang yang bertaqwa”Dalam ayat yang lain :”Sesungguhnya amal ibadah yang diterima dari orang yang bertaqwa” (QS Al-Maidah 27). “Dan jika ada penduduk sebuah kampung itu beriman dan bertaqwa, maka akan Allah bukakan berkat dari pintu langit dan bumi”. [Q.S. Al-A'raf : 96]
Allah akan buka pintu berkat dari langit dan bumi, maka sudah tentu kehidupan orang bertaqwa akan aman damai, berkasih sayang, mesra, selamat sejahtera, tidak ada gangguan, penuh harmoni dan indah, di dunia sudah dapat Syurga dan pastilah di Akhirat akan dapat Syurga yang kekal abadi.
Banyak lagi ayat-ayat yang memberitahu bahwa setelah seseorang atau satu bangsa itu menjadi orang yang bertaqwa, barulah dapat pembelaan dari Allah. Kalau hanya sekedar Islam tidak ada jaminan dan pembelaan dari Allah di dunia maupun di Akhirat. Inilah yang terjadi kepada seluruh umat Islam di dunia hari ini. Rata-rata umat Islam sebagai seorang muslim tetapi tidak menjadi orang yang bertaqwa. Sebab itu tidak ada pembelaan dari Allah. Bila tidak ada pembelaan dari Allah, coba kita lihat apa yang terjadi. Hidup tidak bersatu padu, musuh menekan, menghina, menderita, menjadi hamba orang, susah dan tersingkir di mana-mana. Jumlah banyak tapi tidak berguna. Ramai tapi tidak berguna laksana buih di lautan.
Jadi sekesar menjadi seorang Islam saja jangan berbangga sebab masih belum ada jaminan dan pembelaan dari Allah. Oleh karena itu kita mesti menjadi orang bertaqwa barulah jaminan dan pembelaan akan diperoleh baik di dunia maupun di Akhirat. Oleh itu kita mesti berusaha bersungguh-sungguh dalam hidup ini untuk memiliki sifat taqwa. Lebih-lebih lagi bagi mereka yang bercita-cita membangunkan Islam, perlu berusaha menjadikan diri mereka orang yang bertaqwa.
Orang Islam yang mempunyai cita-cita perjuangan bukan saja ingin memperbaiki dirinya tetapi juga ingin membaiki masyarakat. Untuk itu, dia mesti faham bagaimana memperbaiki dirinya sendiri dan bagaimana untuk memperbaiki masyarakat.
Untuk memperbaiki diri agar menjadi orang yang soleh atau orang yang bertaqwa, 8 syarat perlu ditempuh :
1. Dapat Petunjuk dari Allah
Di sinilah modal utama ke arah taqwa, yaitu Allah beri hidayah dengan cara mengetuk pintu hatinya. Dia senang dengan Islam, sayang dengan Islam, suka dengan Islam, dan terbuka hatinya untuk Islam. Sebut saja Islam terasa indah dan senang. Rasa terhibur walaupun dia tidak tahu apa itu Islam. Firman Allah : “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk dineri-Nya petunjuk, maka dilapangkan hatinya untuk menerima Islam”. (QS Al-An’am 125).
Jadi kalau seseornag itu Allah buka pintu hatinya hingga dia sayang, suka, minat, terhibur dan senang dengan Islam, maka itulah anak kunci yang pertama untuk dia bertindak memperbaiki diri. Tetapi kalau hati sudah tertutup, hidayah sudah tidak dapat, rasa senang hati dengan Islam sudah tidak ada, walau pakar Islam, hafiz Al Qur’an, hafiz ribuan hadits namun tidak akan dapat memperbaiki diri. Kenapa ? Dorongan tidak ada. Rasa minat, cinta dan suka pada Islam, itulah dorongannya. Ibarat orang yang cinta dengan isteri, apa saja kehendak isterinya akan dituruti dan dia akan berkorban habis-habisan, hatta nyawa sekalipun.
2. Faham Tentang Islam
Faham tentang Islam. Bukan diberitahu tenatng Islam. Bukan diajar tentang Islam. Inilah yang dimaksud oleh sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang Allah hendak jadikan dia orang baik, maka dia akan diberi faham tentang Islam”
Kalau begitu sekiranya sekedar diajar atau diberitahu, tidak ada jaminan seseorang itu menjadi baik. Tetapi kalau diberi “faham” itulah tanda seseorang itu akan membuat perubahan. Sebab bila dikatakan “diberi faham”, akan jatuh ke hati. Tetapi kalau hanya “diberitahu” hanya diakal saja. Akhirnya jadi mental exercise. Pintar mengatakan tentang Islam, hanya berputar di akal tidak di hati. Bila hanya bertapak di akal, ceramahnya hebat, dapat menulis dsb. Tetapi kalau tidak bertapak di hati, bukan menjadi keyakinan hidupnya. Artinya tidak menghayati ilmunya. Kalau begitu ilmu yang ada di otaknya tidak mendorong untuk memperbaiki diri. Tidak mendorong untuk memperjuangkannya. Ilmu itu tidak mendorong untuk menuntun hidupnya. Tetapi kalau sampai di hati barulah akan berkesan pada dirinya.
Sebab itulah orang alim banyak tetapi orang “fakih” sedikit. Yang diajar dan diberitahu ilmu Islam itu banyak tetapi yang menjiwai tentang Islam itu tidak banyak. Seseorang yang sekedar diberitahu dan diajar tentang Islam, belum tentu akan terdorong untuk memperbaiki diri. Akalnya terisi dengan ilmu Islam, tapi kalau ilmu itu tidak berasas dalam hati, dorongan untuk memperbaiki diri tidak ada. Sedangkan kalau ilmu disertai kefahaman, maknanya seseorang itu tahu dari hati atau jiwa, bukan sekedar dengan akal, dan ini akan mendorongnya memperbaiki diri.
Namun perlu diingat, kalau hati terbuka untuk menerima Islam, tetapi ilmunya tidak ada, maka seseorang itu tidak akan dapat berbuat. Beramal tanpa ilmu, tertolak. Ada ilmu tetapi tidak diamalkan, laksana pohon tidak berbuah.
Jadi kefahaman tentang Islam ini perlu ada. Memahami Islam secara syumul, secara lengkap, bukannya secara sebagian-sebagian. Memahami Islam yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Memahami Islam sebagai cara hidup, atau dengan kata-kata lain, memahami Islam sebagai agama akidah, ajaran ibadah, dakwah, ukhuwah, jihad, jamaah, amrun bil ma’ruf wanahyu a’nil mungkar, tarbiah, pendidikan, ekonomi, daulah Islamiah, antara bangsa dan hinggalah ke alam sejagat.
Untuk mendapatkan kefahaman, mesti ada jalan, ada usaha dan ada caranya. Tidak dapat faham begitu saja. Mesti melahirkan sebab, seperti dengan belajar, membaca, menelaah, muzakarah, bertanya dan sebagainya. Jadi lapang dada menerima Islam saja tidak cukup. Mesti disertai kefahaman, kemudian berbuat dan bertindak berdasarkan kefahaman itu.
Kalau sesuatu amalan itu dibuat atas dasar tahu tanpa disertai kefahaman, jadilah amalan itu sekedar betul lahirnya tapi batinnya rosak. Misalnya, dia tahu tentang shalat dan akan melakukan shalat tapi ruh shalat tidak ada. Bila roh shalat tidak ada, hakikatnya dia belum mengerjakan shalat. Begitu juga orang yang sekedar tahu ilmu berjuang dan dapat berjuang; lahirnya saja bagus, tapi hatinya sudah rusak. Roh berjuang tidak ada. Sedangkan kalau diberi ilmu puasa saja dan memang kemampuan pun ada, maka ia akan berpuasa, tapi yang berpuasa hanyalah tangannya, mulutnya, matanya dan perutnya, sedangkan rohnya, hatinya dan nafsunya tidak berpuasa.
Sebab “mengetahui” itu hanya terhadap benda-benda lahir yang dapat dinilai oleh mata kepala. Tetapi “faham” itu lebih mendalam yaitu hati dan rohani sama-sama merasa, bukan akal semata-mata.
Begitu juga, tidak cukup membangunkan Islam dengan cara semangat-semangat, slogan-slogan, pekik sana sini, demonstrasi sana sini, kutuk orang ini itu. Itu bukan faham namanya. Jangankan faham, kadang-kadang ilmu pun belum ada. Ini lebih rusak lagi. Beraninya seperti lembu. Lembu, kalau berani, tembok pun ditanduknya. Itu bodoh namanya. Beranikah itu namanya ? Laksana air bah, kalau tidak ada saluran yang betul, habislah dihanyutkannya pohon kelapa orang, kebun orang, rumah orang dan sebagainya. Tapi kalau ada saluran yang betul, air bah itu dapat dialirkan ke sungai. Ada parit, dapat tangkap ikan, dapat main sampan. Minimal kalau berani atas dasar ilmu tapi yang yang paling baik atas dasar faham. Kalau tidak faham, mesti tanya, belajar, muzakarah, berbincang, banyak menelaah dan lain-lain.
3. Yakin
Apa saja ilmu yang kita ketahui dan fahami perlu kita yakini terutamanya dalam soal-soal aqidah; keyakinan kepada Allah, kepada Rasul, kepada malaikat dan sebagainya. Keyakinan itu mesti kental, jangan dicelahi oleh syak, waham atau zan. Jangan jadikan ilmu Islam itu seperti ilmu-ilmu sekuler yang lain. Umpamanya sewaktu kita belajar ilmu ideologi, ilmu ekonomi, ilmu politik dan ilmu alam. Kadang-kadang hati kecil kita bertanya “Iya kah ? Betulkah ?” sudah belajar teori ekonomi, tapi hati kecil pula berkata “Eh, kalau aku buat ini, boleh dapat untungkah ?”
Ada rasa was-was. Ilmu luar Islam boleh begitu. Kalau kita belajar ideologi, belajar teori politik, teori ekonomi dan sebagainya sehingga pandai dan pakar serta boleh mensyarahkannya, tetapi ada rasa ragu, ada syak, waham, zdan atau ada rasa tanda tanya, itu tidak salah. Tetapi ilmu Islam tidak boleh begitu. Terutamanya yang ada hubungan dengan akidah. Sebab itu kita mesti amalkan atas dasar keyakinan.
4. Melaksanakan
Setelah kita mengetahui, faham dan yakin dengan ilmu-ilmu Islam, kita mesti bertindak dan mengamalkannya. Perintah fardhu dan sunnat mesti dilaksanakan; perintah ahram dan makruh mesti ditinggalkan. Perintah buat itu baik yang fardhu ain, maupun yang fardhu kifayah. Manakala yang sunat kita laksanakan sejauh yang termampu. Kalau boleh, yang harus pun dijadikan ibadah dengan menempuh lima syarat.
Buah ilmu itulah amalnya. Jadi sekiranya ilmu itu tidak diamalkan, jadilah ilmu yang tidak berbuah. Pepatah Arab ada berkata :”Ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon tidak berbuah”.
Orang yang tidak menanam pohon durian tidak dapat makan buah durian. Orang yang memiliki pohon durian, tapi ketika musim durian tidak berbuah, maka senasib dia dengan orang yang tidak memiliki pohon durian. Orang yang tidak memiliki pohon durian, tidak makan buah durian itu sudah sewajarnya. Tapi orang yang memiliki pohon durian tapi tidak makan buah durian karena pohon duriannya tidak berbuah, ini lebih malang nasibnya.
Begitulah kita senang saja beramal tapi malas hendak menuntut ilmu, maka banyaklah kesalahan yang dibuat. Amalannya tidak disuluh dengan ilmu, maka akan tertolak amalannya itu. Bila ada ilmu tidak diamalkan maka ibarat pohon tidak berbuah. Bahkan dalam Matan Zubat dikatakan :
“Orang yang berilmu tapi tidak beramal akan masuk ke Neraka 500 tahun lebih dahulu dari penyembah berhala”
Oleh itu jangan jadikan ilmu Islam sebagai “mental exercise” atau riadhah aqidah saja. Kalau kita belajar ilmu ekonomi misalnya, tidak berniaga pun tidak mengapa. Kita belajar ilmu politik, tidak berpolitik pun tidak apa. Tetapi ilmu Islam mesti dilaksanakan. Jadikanlah ilmu yang ada pada kita itu, yang telah kita fahami menjadi panduan hidup dalam semua hal. Dalam menegakkan akhlak, masyarakat, perjuangan, membangun jemaah, berumah tangga, dalam ekonomi, pendidikan, mencari rezeki dan sebagainya. Hingga benar-benar menjadi panduan hidup, agar semua tindak tanduk kita jadi ibadah dan diterima oleh Allah sebagai pahala.
5. Bermujahadah
Walaupun hati sudah terbuka, rindu dan suka dengan Islam, sudah faham Islam dan yakin dengan yang difahami itu, tapi bila hendak bertindak, masya-Allah, rupanya bukan musuh lahir, seperti Yahudi dan Nasrani yang menghalang, tapi musuh dalam diri kita, yaitu nafsu. Nafsu itulah yang lebih jahat dari syaitan. Syaitan tidak dapat mempengaruhi sesorang kalau tidak meniti di atas nafsu. Dengan kata-kata yang lain, nafsu adalah highway untuk syaitan. Kalau nafsu dibiarkan, akan membesar, maka semakin luaslah highway syaitan. Kalaulah nafsu dapat diperangi, maka tertutuplah jalan syaitan dan tidak dapat mempengaruhi jiwa kita. Sedangkan nafsu ini sebagaimana yang digambarkan oleh Allah sangat jahat. “Sesungguhnya hawa nafsu itu sangat membawa kepada kejahatan”. (QS Yusuf 53). Dan ini dikuatkan lagi oleh sabda Rasulullah SAW :“Musuh yang paling memusuhi kamu adalah nafsu yang ada di antara dua lambungmu”.
Nafsu itulah yang menjadi penghalang pertama dan utama, kemudian barulah syaitan dan golongan-golongan yang lain. Memerangi hawa nafsu lebih hebat daripada memerangi Yahudi dan Nasrani atau orang kafir. Sebab berperang dengan orang kafir cuma sekali-sekali.
Nafsulah penghalang yang paling jahat. Kenapa ? Kalaulah musuh dalam selimut, itu mudah dan dapat kita hadapi. Tetapi nafsu adalah bagian dari badan kita. Tidak sempurna diri kita jikalau tidak ada nafsu. Ini yang disebut musuh dalam diri. Sebagian diri kita, memusuhi kita. Ia adalah jizmullatif, tubuh yang halus yang tidak dapat dilihat dengam mata kepala, hanya dapat dirasa oleh mata otak atau mata hati. Oleh karena itu tidak dapat kita buang. Sekiranya dibuang kita pasti mati.
Nafsu adalah penghalang yang besar. Kalau hendak shalat bukan mudah untuk mujahadah. Akhirnya terlambat shalat subuh. Siapa yang membisikkan kepada kita ? Itulah nafsu. Tidak mudah hendak berjuang dan berkorban. Tidak mudah hendak sabar apabila berhadapan dengan ujian. Tidak mudah sebab nafsu tidak mau. Begitu juga hendak memberi maaf orang yang berbuat salah kepada kita ? Kita rasa terhina hendak memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Lebih-lebih lagi kita yang bersalah, hendak minta maaf lebih sukar lagi. Terasa tergugat ego kita. Lebih-lebih lagi apabila ada jabatan dan pengaruh. Tidak mudah untuk ikut syariat, jika nafsu mengatakan jangan. Sebab itu barang siapa yang berjaya melawan hawa nafsu dia dianggap pahlawan. Dianggap orang berani dan luar biasa. Sebab itu ada hadits yang mengatakan : “Tidak dianggap seseorang itu berani bila ia dapat mengalahkan musuhnya, tetapi dianggap berani, jika seseorang itu dapat melawan hawa nafsunya.”
Bukannya seperti yang terjadi hari ini, gelar “Tokoh” atau “pahlawan” yang dikaruniakan kepada seseorang, bila kita tinjauh kehidupan mereka, kebanyakan mereka yang sudah dikalahkan oleh hawa nafsu. Itulah pahlawan yang palsu. Pahlawan yang sebenarnya ialah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya. Inilah yang dikatakan pejuang yang hakiki. Selagi hawa nafsu tidak dapat diperangi, selama itu seseorang itu tidak akan tertuju kepada Allah. Tidak akan dapat benar-benar berbakti kepada Allah. Tidak akan jatuh cinta kepada Allah. Tidak akan dapat memberi ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah. Kalau nafsu tidak diperangi, tidak akan dapat hidup dalam kebenaran. Hidup dalam pimpinan Allah. Firman Allah :”Mereka yang berjuang untuk melawan hawa nafsu karena hendak menempuh jalan Kami, sesungguhnya Kami akan menunjuki jalan Kami. Sesungguhnya Allah itu beserta dengan orang yang berbuat baik”. (QS Al-Ankabut 69).
Ini jaminan dari Allah. Siapa yang melawan hawa nafsu, Allah akan tunjukkan satu jalan hingga diberi kemenangan, diberi bantuan dan tertuju ke jalan yang sebenarnya. Inilah rahasia untuk mendapatkan pembelaan dari Allah.
Artinya mereka mendapatkan pembelaan dari Allah sejak di dunia. Jadi sesiapa yang sanggup melawan hawa nafsu, dia adalah rijalullah (orang Allah, keluarga Allah, kepunyaan Allah, tentara Allah), siapa yang menjadi kepunyaan Allah atau tentara Allah, dia akan dibantu oleh Allah. Tetapi selagi belum menjadi tentara Allah, sebaliknya menjadi tentara manusia atau tentara syaitan Allah akan biarkan. Kalau diberi kemenangan atas dasar kuat, bukan atas dasar bantuan. Manakala yang lemah akan diberi kekalahan.
Jadi seseorang itu mesti sanggup melawan hawa nafsu. Kalau tidak banyak ajaran Islam yang terabai, banyak perintah Allah dilalaikan. Bila tidak dapat melawan hawa nafsu, banyak larangan Allah yang akan dibuat. Jadi hanya dengan melakukan mujahadatunnafsi, barulah ajaran Islam itu dapat kita amalkan sungguh-sungguh dan barulah maksiat lahir dan batin dapat kita tinggalkan, karena nafsu yang sangat menghalang itu sudah tidak ada lagi. Nafsu itu sudah kita didik, sudah kita kalahkan, dan sudah menjadi tawanan kita.
6. Istiqamah Beramal
Beramal jangan bermusim, jangan ada turun naiknya. Kalau sudah beribadah, mesti terus beribadah. Kalau sudah berukhuwah, terus berukhuwah. Kalau tinggalkan maksiat, terus tinggalkan. Jangan sekali buat sekali tinggalkan. Begitu juga kalau berjuang, berdakwah dan sebagainya, hendaklah berjuang dan berdakwah terus. Jangan kadang-kadang beribadah, kadang-kadang tidak; kadang-kadang berdakwah, kadang-kadang tidak. Jadi mesti mengamalkan baik perintah suruh dibuat secara istiqamah maupun perintah larangan itu ditinggalkan secara istiqomah juga. Dengan kata lain, beramal hendaklah secara tetap, secara rajin dan terus menerus. Ini yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW : “Sebaik-baik amalan itu, yang dibuat secara istiqamah sekalipun sedikit”.
Apa yang dimaksudkan sedikit ? Sekiranya tidak diuraikan, nanti ada mereka yang ambil kesempatan dengan berkata: “yang penting istiqamah, tetap Allah terima walaupun sedikit. Kalau begitu saya akan shalat saja sampai mati. Puasa, naik haji, berkorban dan sebagainya tak perlu dibuat”. Sebenarnya sedikit yang dimaksudkan oleh Rasulullah ialah amalan-amalan yang fardhu sudah ditunaikan. Yang fardhu ain selesai, kemudian ditambah pula dengan amalan yang sunat. Istiqamah amalan yang sunat, amalan wajib memang tidak dapat ditinggalkan.
Amalan yang istiqamah akan membuat kesan pada roh atau hati seseorang. Laksana titisan air, walaupun kecil dan lembut tapi jika ia meniti sepanjang masa, lama-kelamaan batu akan lekuk. Sebaliknya, air banjir yang datang setahun sekali atau dua tiga tahun sekali, walaupun besar tetapi tidak dapat melekukkan batu. Tegasnya, amalan sunat yang istiqamah sangat memberi kesan pada hati. Kesannya dapat dilihat pada gerak-gerik, membuahkan akhlak yang mulia. Sebaliknya amalan sunat yang dibuat walaupun banyak tetapi tidak secara istiqamah, tidak memberi bekas pada jiwa.
7. Ada Pemimpin yang Memimpin
Dapat memimpin baik di bidang ilmu, akal atau hati. Baik yang lahir maupun yang batin dan dalam semua hal hingga hidup kita ini dapat tertuju kepada Allah.
Dalam Islam, pemimpin yang dapat memimpin hidup kita itulah yang dikatakan mursyid. Asalnya dari perkataan ‘mursyidun’ maknanya orang yang memimpin. Setiap orang wajib ada pemimpin yang memimpin dirinya, baik dia ulama atau tidak, hafiz atau tidak, pakar Islam atau tidak, mualim atau tidak.
Orang yang memimpin (mursyidun) tidak sama dengan mua’llim. Juga tidak sama dengan ustaz dan guru. Sebab mu’alim itu hanya memberi ilmu. Mereka hanya memandang luar. Tetapi mursyid yang dapat memimpin. Allah memberi padanya ilmu-ilmu yang luar biasa. Ada ilmu lahir dan batin. Bukan saja dia dapat memimpin akal, tetapi juga hati (roh) juga dipimpinnya. Walaupun mursyid itu seorang yang tidak hafal quran dan hadis. Sebab itu sebagaimana hebat alim seseorang itu, dia mesti punya pemimpin.
Memang guru, pemimpin itu susah dicari. Apalagi di jaman sekarang yang sudah jauh dari Rasulullah. Orang yang jadi mursyid hanya dalam hitungan jari saja. Sebab itu mursyid kurang popular dan jarang disebut dalam kehidupan sehari-hari. Imam Ghazali r.h. berkata:
“Untuk mencari seorang mursyid, laksana mencari belerang merah”
Begitulah susahnya untuk mencari mursyid. Sebab itu pimpinan sudah tidak wujud lagi di kalangan umat Islam hari ini. Maka berjuangpun hanya main-main akal, beribadah sesuka hati, bertindak sembrono, tidak diukur secara ilmu lagi. Jadi perlu ada guru yang mursyid, yang dapat memimpin ilmu dan amalan kita, yang memimpin lahir dan batin kita. Guru mursyid ini menjadi tempat kita merujuk walau dalam hal keci sekalipun.
Tetapi di sinilah banyak yang tidak faham termasuk alim ulama. Sebagiannya berkata “kalaulah kita sudah berguru ke satu tempat, jangan lagi berguru di tempat lain”. Ini satu fahaman yang salah. Sebenarnya guru mursyid yang tidak banyak; seorang saja. Tapi kalau guru sumber ilmu, lebih banyak lebih baik karena lebih banyak saluran untuk dapat ilmu. Imam Ghazali r.h. ada 1000 orang gurunya.
Guru pimpinan, tempat rujuk dalam semua hal hanya seorang saja. Dalam hal apapun mesti dirujuk kepadanya termasuk dalam hal yang mubah. Walaupun mubah, tetapi untuk dapat berkat mesti bertanya kepadanya. Lebih-lebih lagi kalau sudah menjadi arahannya wajib ditaati. Setiap arahannya sudah menjadi wajib arahdi, sebab mentaati pemimpin adalah wajib. Di sinilah kebanyakan kesalahan pejuang sekarang. Mereka sudah memiliki jemaah, tetapi bila ada masalah dalam jemaah dia rujuk pada ‘ulama luar jemaah’ atau dukun.
Jadi setiap orang yang ingin memperbaiki dirinya mesti ada mursyid yang akan memimpinnya, sekalipun dia ulama, alim, hafaz Al Quran dan pakar hadis. Kenapa ? Dalam ajaran Islam ini, ada ilmu yang datang dari akal, dan ada yang dari hati; ada lahir ada batin; ada yang tersurat dan ada yang tersirat. Kalau seseorang itu diberi ilmu yang tersurat, belum tentu dia akan diberi ilmu yang tersirat. Bukan semua muhaddisin akan diberi ilmu-ilmu hati. Oleh itu, walau ulama pakar sekalipun, mesti ada guru yang memimpinnya. Di sinilah banyak orang salah faham, terutama para ulama. Hati mereka berkata, “Saya sudah jadi ulama, alim, sudah mengajar profesor, sudah menjadi dosen, mengapa perlu pimpinan ? Saya boleh pimpin diri saya sendiri. Buat apa bersandar kepada orang lain ?” Sebab mereka merasa mereka banyak ilmu dan dapat pimpin diri sendiri. Lebih-lebih lagi mereka tidak mau dipimpin oleh guru yang mursyid.
Orang yang boleh memimpin ataupun mursyid, hanyalah orang yang pintu hatinya terbuka, yaitu yang mempunyai basyirah. Bukan sekedar akal saja terbuka. Banyak orang yang akalnya terbuka, hingga dapat menangkap ilmu, tapi orang yang hatinya terbuka tidak banyak. Mursyid itu ialah orang yang hatinya terbuka luas dan dapat memimpin orang lain. Dia tidak semestinya lebih alim daripada orang yang dipimpinnya. Imam Hambali umpamanya, dia tidak disebut ahli tasawuf sebab dia tidak mengarang kitab tasawuf, sebaliknya hanya mengarang kitab ilmu-ilmu lahir. Tetapi yang sebenarnya dia juga alim ilmu batin (karena semua Imam mahzab itu adalah mursyid dan pakar tasawuf). Dia tahu dan mengamalkannya. Menurut riwayat, Imam Hambali selalu merujuk kepada ulama-ulama, menziarahi bisyru al khafi, sering menziarahi ahli-ahli sufi di ujung negeri Baghdad.
Jadi setiap orang mesti mencari seorang guru mursyid untuk memimpin dirinya walaupun dia alim. Lahir dan batinnya perlu diserahkan kepada guru mursyid.
8. Berdoa Kepada Allah
Usaha kita tidak memberi bekas walaupun usaha itu diperintahkan oleh Allah. Kita sudah belajar, tetapi ilmu itu sebenarnya tidak memberi bekas. Kita bermujahadah, tetapi usaha kita membaiki diri itu tidak memberi bekas. Mursyid kita tidak memberi bekas walaupun kita disuruh mencari mursyid. Yang memberi bekas hanyalah Allah. Allah-lah yang menghitamputihkan nasib kita. Begitulah keyakinan kita. Sebab itu kita mesti selalu panjatkan doa kepada Allah agar Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik kepada kita.
Dapat hidayah itu lebih mudah. Contohnya dibuka pintu hatinya untuk menerima dan suka kepada Islam. Tetapi belum tentu dapat taufiq. Taufiq ialah amalannya selaras dengan ilmu atau dengan apa yang dia mau. Praktikal dengan teorinya sama. Ilmiah dengan amaliahnya sama.
Oleh karena yang muatsir hanyalah Allah, jadi tujuh hal yang diperkatakan diatas tidak muatsir, walaupun diperintah. Dia tidak memberi bekas. Sebab itulah mesti bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah. Bila Allah beri hidayah dan taufiq semua masalah selesai. Tidak ada masalah yang sulit. Yang besar jadi kecil, yang kecil lebih lagilah jadi terlalu kecil.
Ilmu Islam seperti juga sebagaimana ilmu dunia juga. Tidak mesti kita belajar ilmu dan apabila diamalkan itu tepat sebagaimana belajar. Kebanyakannya tidak tepat walaupun sudah ada nasnya. Tepat yang lahir, batin pula yang tidak kena. Contohnya kita belajar ilmu shalat. Dari segi rukuk, sujud, tepat sebagaimana dalam kitabnya. Tapi yang batin, hati tidak sujud, hati pula yang tidak rukuk. Inilah yang dikatakan taufiq tidak ada sebaliknya hanya dapat hidayah saja.
Contoh yang lain, seorang yang belajar ilmu ekonomi yang selalu memikirkan soal untung dan rugi. Tetapi bila praktikal tidak selalu begitu. Sebab itu mandor lebih pakar dari enginer. Enginer tahu menyebut dari segi istilah saja sesuatu ‘barang’. Tetapi seorang mandor istilahnya tidak tahu menyebutnya tapi dialah yang pakar mengoperasikannya. Jadi teori dengan amal tidak selaras walaupun dari segi ilmunya sudah nampak tepat. Tetapi bila buat tidak tepat. Itulah yang menunjukkan selain Allah tidak memberi bekas. Oleh itu mesti selalu berdoa kepada Allah agar dikaruniakan hidayah dan taufiq. Bila Allah berikan hidayah dan taufiq, semua apa yang dibuatnya akan tepat.Begitulah teori ilmiahnya, 8 syarat yang ditempuh oleh seseorang itu agar ia menjadi orang soleh atau menjadi orang yang bertaqwa. Bila kita menjadi orang yang bertaqwa barulah kita akan dapat ganjaran dari Allah dunia dan Akhirat. Jadi sebelum kita menjadi orang yang bertaqwa selagi itulah Allah tidak akan bantu dan bela kita serta tiada jaminan daripada Allah SWT.