Powered By Blogger

Minggu, 09 Januari 2011

TERSENYUMLAH

Tertawa yang wajar itu laksana balsem bagi kegalauan dan salep bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan karena itu Abu Darda’ sempat berkata: “Sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku, Dan Rasulullah SAW sendiri sesekali tertawa hingga tampak gerahamnya. Begitulah tertawanya orang-orang yang berakal dan mengerti tentang penyakit jiwa serta penyembuhannya.

Tertawa, merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan dan ujung rasa suka cita. Namun, yang demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagai dikatakan pepatah: “Janganlah engkau banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.” Maka tertawalah sewajaranya saja, sebagaimana dikatakan juga dalam pepatah yang berbunyi: ”Senyum di depan saudaramu adalah sedekah.” Bahkan tertawalah sebagaimana Nabi Sulaiman ketika: “…. ia tertawa karena mendengar perkataan semut itu”. (QS An- Naml: 19). Janganlah tertawa sinis kepada orang-orang kafir: “tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami, dengan serta merta mereka menertawakannya.” (QS Az Zukruf: 47).
Dan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada penghuni surga adalah tertawa. “Maka pada hari ini orang-orang yang beriman, menertawakan orang-orang kafir. “ (QS Al-Muthafiffin: 34).

Orang senang memuji orang yang murah senyum dan selalu tampak ceria. Menurut mereka, perangai yang demikian itu merupakan pertanda kelapangan dada, kedermawanan sifat, kemurahan hati, kewibawaan perangai dan ketanggapan pikiran.


Orang yang murah senyum dalam menjalankan hidup ini, bukan saja orang yang paling mampu berbuat, melainkan juga orang yang paling sanggup memikul tanggungjawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.


Andai saja saya disuruh memilih antara harta yang banyak atau kedudukan yang tinggi dengan jiwa yang tenteram dan damai dan selalu tersenyun, pastilah saya akan memilih yang kedua. Sebab, apa artinya harta yang banyak bila wajah selalu cemberut. Apa artinya kedudukan jika jiwa selalu cemas? Apa artinya semua yang ada di dunia ini bila perasaan selaku sedih, seperti orang yang usai mengantar jenazah kekasihnya? Apa arti kecantikan seorang isteri jika selalu cemberut dan hanya membuat rumah tangga menjadi neraka saja? Tentu saja seorang isteri yang tidak terlalu cantik akan seribu kali lebih baik jika dapat menjadikan rumah tangga senantiasa laksana surga dan menyejukkan setiap saat.


Senyuman tak akan ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus dari tabiat dasar seorang manusia. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan laut juga tersenyum. Langit, bintang gemintang dan burung-burung semua tersenyum. Dan manusia sesuai watak dasarnya adalah makhluk yang suka tersenyum. Itu bila dalam dirinya tidak bercokol penyakit tamak, jahat dan egoisme yang selalu membuat kusut dan cemberut.


Adapun bila ketiga hal itu meliputi seseorang, niscaya ia akan menjelma sebagai manusia yang selalu mengingkari keindahan alam semesta. Artinya, orang yang selalu bermuram durja dan pekat jiwanya tak akan pernah melihat keindahan dunia sedikitpun. Ia juga tidak akan mampu melihat hakikat atau kebenaran dikarenakan kekotoran hatinya.


Betapapun, setiap manusia akan melihat dunia ini melalui perbuatan, pikiran dan dorongan hidupnya. Yakni, bila amal perbuatannya baik, pikirannya bersih dan motivasinya suci, maka kacamata yang akan digunakan untuk melihat dunia akan bersih, dan karena itu ia akan melihat dunia ini akan tampak indah dan mempesona. Namun, bila tidak demikian maka kacamata yang digunakan untuk melihat dunia ini adalah kacamata gelap yang membuat segala sesuatu di dunia ini nampak serba hitam dan pekat.

Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah senyum, justru akan menikmati kesulitan itu dengan memicu diri untuk mengalahkannya. Begitu ia memperlakukan sesuatu kesulitan, melihatnya lalu tersenyum, menyiasatinya, dan berusaha mengalahkannya lalu tersenyum.


Berbeda dengan jiwa yang selalu risau, setiap kali menjumpaI kesulitan, ia ingin segera meninggalkannya dan melihatnya sebagai sesuatu yang amat sangat besar dan memberatkan dirinya. Dan itulah yang acap kali menyebabkan semangat seseorang menurun dan asanya berkurang. Bahkan, tak jarang orang itu seperti berdalih dengan kata-kata “Seandainya …“, Kalau saja …” dan “Seharusnya …” . Orang seperti itu sangatlah nista. Bukan zaman yang mengutuknya, tapi dirinya dan pendidikan yang telah membesarkannya.


Bagaimana tidak, ia menginginkan keberhasilan dalam menjalani kehidupan ini, tapi tanpa mau membayar ongkosnya. Orang seperti ini ibarat seseorang yang hendak berjalan tapi selalu dibayangi oleh seekor singa yang siap menerkam dirinya dari belakang. Akibatnya ia hanya menunggu langit menurunkan emasnya atau bumi mengeluarkan kandungan harta karunnya.


Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan itu merupakan perkaran yang nisbi. Yakni segala sesuatu akan terasa sulit bagi jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tidak ada istilah kesulitan besar akan semakin besar karena mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu.


Sementara itu jiwa yang kecil akan semakin sakit, karena selalu menghindar dari kesulitan itu. Kesulitan itu ibarat anjing yang siap menggigit; ia akan menggonggong dan mengejar Anda bila Anda tampak ketakutan saat melihatnya. Sebaliknya, ia akan membiarkan Anda berlalu di hadapannya dengan tenang bila Anda tak menghiraukannya, atau Anda berani memelototinya.


Penyakit yang mematikan jiwa adalah rasa rendah diri. Penyakit ini dapat menghilangkan rasa percaya diri dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Maka dari itu, meski berani melakukan suatu pekerjaan, ia tidak akan pernah yakin dengan kemampuan dan keberhasilan dirinya. Ia juga melakukannya dengan tanpa perhitungan yang matang, dan akhirnya gagal.


Percaya diri adalah sebuah karunia yang sangat besar. Ia merupakan tiang penyangga keberhasilan dalam kehidupan ini. Adalah sangat berbeda antara “percaya diri” dengan “terlalu percaya diri”.


Terlalu percaya diri merupakan perilaku negatif yang senantiasa membawa jiwa bergantung ada khayalan dan kesombongan semu. Sedangkan percaya diri merupakan hal positif yang akan mendorong setiap jiwa untuk bergantung pada kemampuannya sendiri dalam memikul sesuatu tanggungjawab. Dan karena itu, ia akan terdorong untuk senantiasa mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan diri dengan matang dalam menghadapi segala sesuatu.

Sungguh, kita akan sangat butuh pada senyuman yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut, dan pembawaan yang tidak kasar. “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian berendah hati, hingga tidak ada salah seorang di antaramu yang berlaku jahat pada yang lain dan tidak ada salah seorang di antaramu yang membanggakan diri atas yang lain. (Al-Hadits)

Dr. ‘Aidh al-Qarni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar