REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN--Iran, Selasa (28/12) menggantung satu orang warganya atas dakwaan mata-mata untuk Israel, demikian laporan kantor berita negara, IRNA.
Warga Iran bernama Ali Akbar Siadati itu digantung di penjara Evin, Teheran. Awal pekan ini badan peradilan Iran mengumumkan bahwa satu mata-mata Israel akan dieksekusi segera setelah pengadilan banding mengesahkan hukuman mati bagi si pria. Sidang tersebut hanya dihadari oleh pengacara terdakwa.
Menurut IRNA, Siadati memulai aktivitas mata-matanya pada 2004 lalu dan ditahan pada 2008 ketika berencana terbang meninggalkan Iran. Ia dituduh memasok informasi rahasia berupa kekuatan militer Iran ke Israel. Informasi itu di antaranya detail manuver militer, basis militer, pesawat tempur layak operasi, penerbangan militer, peluru udara dan rudal.
Tidak ada penjelasan detail apakah Siadati dulu bekerja sebagai pegawai pemerintah dan bagaimana ia memperoleh informasi rahasia. Ia diduga betemu dengan agen intelijen Israel ketika melancong ke Turki, Thailand dan Belanda.
Laporan juga mengatakan ia telah mengaku memberikan informasi rahasia itu dengan imbalan uang sebesar $60.000 (Rp600 jutaan) dan mendapat lebih dari $7.000 lagi di setiap pertemuan dengan agen Israel.
Hingga kini belum ada pejabat Israel yang memberi komentar secara langsung mengenai eksekusi tersebut.
Dalam hukum Iran, aktivitas mata-mata dapat dijatuhi hukuman mati. Iran yang menjadi musuh bebuyutan Israel sejak Revolusi Islam 1979, secara periodik mengumumkan penahanan orang-orang yang diduga menjadi mata-mata Israel.
Pada 2008, Iran mengeksekusi seorang sales elektronik, Ali Ashtari yang atas vonis menyebarkan informasi program nuklir Iran dan data sensitif lainnya untuk badan intelijen Israel Mossad.
Lalu pada 2000, sebuah sidang menghukum 10 Yahudi Iran yang menjadi mata-mata utuk Israel. Dalam sidang tertutup itu mereka diganjar kurungan penjara mulai 4 hingga 13 tahun. Semua narapidana itu dilepas sebelum menjalani masa hukuman total setelah mendapat tekanan internasional.
Israel yang menganggap Iran ancaman strategis karena program nuklir dan rudalnya selalu mengatakan lebih suka menyelesaikan masalah lewat cara diplomatik. Namun, itu bukan berarti menyingkirkan operasi militer dari menu.
Warga Iran bernama Ali Akbar Siadati itu digantung di penjara Evin, Teheran. Awal pekan ini badan peradilan Iran mengumumkan bahwa satu mata-mata Israel akan dieksekusi segera setelah pengadilan banding mengesahkan hukuman mati bagi si pria. Sidang tersebut hanya dihadari oleh pengacara terdakwa.
Menurut IRNA, Siadati memulai aktivitas mata-matanya pada 2004 lalu dan ditahan pada 2008 ketika berencana terbang meninggalkan Iran. Ia dituduh memasok informasi rahasia berupa kekuatan militer Iran ke Israel. Informasi itu di antaranya detail manuver militer, basis militer, pesawat tempur layak operasi, penerbangan militer, peluru udara dan rudal.
Tidak ada penjelasan detail apakah Siadati dulu bekerja sebagai pegawai pemerintah dan bagaimana ia memperoleh informasi rahasia. Ia diduga betemu dengan agen intelijen Israel ketika melancong ke Turki, Thailand dan Belanda.
Laporan juga mengatakan ia telah mengaku memberikan informasi rahasia itu dengan imbalan uang sebesar $60.000 (Rp600 jutaan) dan mendapat lebih dari $7.000 lagi di setiap pertemuan dengan agen Israel.
Hingga kini belum ada pejabat Israel yang memberi komentar secara langsung mengenai eksekusi tersebut.
Dalam hukum Iran, aktivitas mata-mata dapat dijatuhi hukuman mati. Iran yang menjadi musuh bebuyutan Israel sejak Revolusi Islam 1979, secara periodik mengumumkan penahanan orang-orang yang diduga menjadi mata-mata Israel.
Pada 2008, Iran mengeksekusi seorang sales elektronik, Ali Ashtari yang atas vonis menyebarkan informasi program nuklir Iran dan data sensitif lainnya untuk badan intelijen Israel Mossad.
Lalu pada 2000, sebuah sidang menghukum 10 Yahudi Iran yang menjadi mata-mata utuk Israel. Dalam sidang tertutup itu mereka diganjar kurungan penjara mulai 4 hingga 13 tahun. Semua narapidana itu dilepas sebelum menjalani masa hukuman total setelah mendapat tekanan internasional.
Israel yang menganggap Iran ancaman strategis karena program nuklir dan rudalnya selalu mengatakan lebih suka menyelesaikan masalah lewat cara diplomatik. Namun, itu bukan berarti menyingkirkan operasi militer dari menu.





